Persahabatan (Jannie’s Story 4)

Sejak kemarin, Agnes mulai lebih baik. Jika Jannie salah sedikit, dia hanya bilang ‘tidak apa apa,’ atau ‘mungkin kamu belum sempat belajar’. Wah, inilah saat yang ditunggu Jannie. Agnes sudah menjadi baik dan perhatian padanya. Jannie tidak marah pada Agnes, justru dia berterima kasih pada Agnes karena sudah menguji kemampuan Jannie untuk selalu bertahan.

Di ruang latihan, Agnes mengajak Jannie ke kamar mandi. “Jannie, aku mau bilang sesuatu….,” kata Agnes. “Apa, Nes? Akan kudengarkan,” kata Jannie lembut. “Aku… aku minta maaf. Aku salah. Aku menyiksamu karena….” Agnes menghentikan kata katanya. “Aku iri padamu, Jan. Jadi, maafkan aku karena sudah menjepit tanganmu, menuduhmu mencuri, dan memberimu roti cicak itu. Tolong maafkan aku!” kata Agnes sambil memeluk Jannie. ‘Sudah kumaafkan kamu. Jadi, kita bisa jadi sahabat. Selamanya,” kata Jannie. “Be.. benarkah, Jannie? Kamu… memaafkanku?” tanya Agnes. “Tentu saja,” kata Jannie.

“Jannie, kamu mau ngapain? Ayo ke kantin!” ajak Agnes. “Kok, kamu ngajak dia, sih?” tanya Fina. “Aku sudah menjadi sahabat Jannie,” kata Agnes santai. Dona dan Fina terlihat kesal. “Bisa bisanya kamu mengkhianati sahabat sendiri!” seru Dona. “Kalau kalian tetap ingin bersahabat denganku, minta maaf dengan Jannie!” perintah Agnes. Dona dan Fina menatap Agnes dengan pandangan tak suka. “Tidak akan!” kata Fina sambil pergi.

Di rumah, Jannie langsung mengambil pancake apel di lemari makanan dan mengambil yogurt rasa lemon di kulkas. Setelah itu, dia nonton di ruang tengah. “MAMA! PAPA!” teriak Jannie ketika melihat kedua orang tuanya datang. “Halo sayang! Nih, Papa punya pizza jamur keju kesukaan kamu sama jus semangka!” kata Papa. “Mama juga punya mainan dan dress ungu dambaan kamu!” kata Mama tak mau kalah. “Terima kasih, Papaku Sayang dan Mamaku Tercinta!” kata Jannie senang.

Besoknya, Agnes terlihat seperti senang sekali. Wajahnya berseri seri dan mata ungunya berbinar binar. “Nes, kamu kok, kayak seneng gitu?” tanya Jannie. “Aku lagi seneng aja, kenapa? Oh iya, aku tadi bawa buku KKPK yang Let’s Sing With Me. Kamu mau pinjam, Jan?” tawar Agnes senang. “Mau, mau! Aku belum baca yang itu,” jawab Jannie. Mereka pun saling bersahabat. Bahkan, Agnes meminta duduk di sebelah Jannie pada Miss Livia, wali kelas Jannie.

Saat pulang, Bu Lila sudah datang. “Hari ini, Jack, Dona, dan Fina sudah memutuskan keluar dari kelompok kita,” kata Bu Lila sedih. “Memangnya kenapa, Bu?” tanya Agnes. “Kalau Jack, sih, dia lebih baik les IPA. Kalau Dona dan Fina, mereka ingin les Bahasa Prancis,” kata Bu Lila. “Kenapa setiap peserta yang masuk ke kelompok musik kita selalu ingin keluar, ya? Apa, apa kelompok kita kurang elit?” tanya Jannie. “Jannie, kelompok musik ini adalah kelompok paling terpandang di sekolah!” jelas Agnes. “Oke. Jadi, kelompok musik ini terpaksa ibu bubarkan,” kata Bu Lila. “Apa? Dibubarkan?!” seru Agnes dan Jannie bersamaan. “Ibu terpaksa, Jannie, Agnes. Kelompok musik ini sudah berkali kali kekurangan anggota,” ungkap Bu Lila. Agnes dan Jannie terdiam. Bu Lila pergi penuh keluhan. Mereka juga ikut pergi.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s