Rencana Agnes (Jannie’s Story 3)

Semua orang sekarang tidak berani dekat dengan Jannie. Agnes sudah membuat semua orang takut berteman dengan Jannie. Bahkan, Inna pun sekarang takut berteman dengan Jannie. Jannie merasa sedih.

Di kelas, Jannie menduduki bangkunya sendirian. Sekarang, dia duduk seorang diri. Inna sudah pindah di sebelah Helena. Ketika pulang sekolah, Jannie langsung latihan. Terlihat Bu Lila sedang mengumumkan sesuatu. “Jadi, kita kedatangan murid baru. Namanya Jack. Dia anak laki laki. Jack, silahkan latihan bersama kelompok barumu,” kata Bu Lila. Lalu, cowok berkulit putih kurus itu duduk di dekat Jannie. Agnes merasa kesal karena ada murid baru lagi. “Heh, Kurus! Cepetan ambil cello di lemari besar itu! Aku Agnes, Dona, dan Fina. Aku adalah ketua kelompok. Awas kalau macam macam denganku!” kata Agnes sambil pergi ke sebelah pintu. “Kalian silahkan latihan sendiri! Aku akan pulang bersama Dona dan Fina. Jadi aku tidak latihan, dan awas kalau sampai kalian mengadu ke Bu Lila!” ancam Agnes dan segera pulang.

Di rumah Agnes, Agnes dan dua kawannya itu berbicara sesuatu. “Aku punya rencana! Kita akan menguji kesabaran dua anak itu,” kata Agnes memasang mimik jahat. “Gimana caranya?” tanya Fina. “Gampang saja. Nih aku kasih tau!” Agnes membisikkan rencananya. “Kamu sangat cerdas, Nes! Aku salut sama kamu!” puji Dona. “Iya! Bagus banget rencananya!” timpal Fina. Agnes pun tersenyum licik. “Aku yakin, mereka tak tahan dengan rencanaku!” kata Agnes.

Di sekolah, Pak Boy, guru Matematika, menulis soal di papan sebanyak 15 soal. Lalu, beliau memanggil nama Agnes yang sedang asyik ngobrol dengan temannya. “Apa? Saya, Pak?” kata Agnes gugup. “Iya. Kerjakan soal nomor 9 di papan tulis, sekarang!” Namun sayang, Agnes tak bisa kerjakan. Jannie akhirnya membantu Agnes. “Jannie! Silahkan maju kalau kamu bisa!” kata Pak Boy. Jannie maju dan segera mengerjakan soal nomor 9. “Bagus, Jannie! Kamu pintar!” kata Pak Boy sambil bertepuk tangan. Agnes kesal dan menuju bangkunya.

Saat istirahat, Jack dan Jannie sedang mengobrol. “Hei, Anak Sombong!” teriak Agnes. “Apa, Nes?” tanya Jannie. “Kamu mau roti ini, kan? Ayo, ambillah!” paksa Agnes. “Kok, kamu maksa banget sih, Agnes?” seru Jack. “Diam kamu! Mau aku jadikan sosis panggang?!” balas Agnes. Jannie mengambil roti itu. Jannie melihat roti itu sudah terbelah dan mengangkat belahan roti itu. Jannie kaget ketika melihat seekor cicak keluar dari roti itu. Ia berteriak dan melempar roti itu. “Dasar Anak Sombong! Udah bikin malu aku di depan kelas. Kamu jangan sok pintar! Itu peringatan bagi kamu supaya tidak berulah lagi padaku! Dan kalau ada yang mengadu, akan bernasib sama sepertinya!” seru Agnes lantang. Dia menggebrak meja dan menginjak kaki Jannie dan Jack bersamaan. Banyak anak anak yang melihat itu hanya bisa diam.

Di kelas, “Berhasil kan, rencanaku? Dia pasti amat ketakutan!” kata Agnes. “Kamu sangat pandai! Aku juga punya rencana, nih!” kata Dona. “Apa itu?” tanya Agnes. “Kalau Jannie atau Jack sedang latihan, kita harus awasi mereka. Kita harus menyalahkan setiap musik yang mereka pelajari. Gampang, kan?” kata Dona. “Bagus! Kita jalankan aksi kita nanti,” kata Agnes.

Di ruang musik, Agnes, Dona, Fina, Jannie, dan Jack sedang latihan. Agnes pun datang. “Heh, kalian berdua! Ayo latihan! Aku akan awasi kalian sampai musik kalian benar!” kata Agnes. Jack dan Jannie pun memadukan alat musik mereka. Lalu, Agnes menggebrak meja piano. “Heh, kamu main nada pop kok, lambat sih? Main yang bener!” seru Agnes. Mereka berdua pun menarik nafas dan mulai bermain. Beberapa detik kemudian, mata Agnes melotot. “Kok, gak nyambung sih? Mana ada nada pop cepat banget seperti itu?! Kalian bodoh sekali!” teriak Agnes. “Nes, nada pop kan, memang kayak gitu?” kata Jannie. “Kamu memang tau apa tentang musik, hah? Aku lebih tau musik dari pada kamu! Ikuti saja perintahku atau akan aku buat kamu sengsara!’ ancam Agnes. “Kamu jahat Nes! Apa salah kita?” seru Jack marah. “Salah kamu apa? Kalian gak nyadar? Salah kalian tuh banyak! Sok pintar, sok bisa, jangan sekali sekali ya, kamu melawanku! Apalagi ikut campur urusanku!” teriak Agnes. Jack dan Jannie diam. “Latihannya cukup sampai disini! Bubar! Pergi kalian dari sini!” teriak Agnes keras. Jannie dan Jack pun pergi.

Di kelas, “Aku capek gini terus,” gumam Jack. “Apa maksud kamu?” tanya Jannie. “Aku tertekan. Dia begitu tidak menyukai kita. Apa salah kita kepadanya? Dia pernah tuh, nginjak kaki kita tanpa alasan. Apa aku tak marah? Aku laki laki memang. Tapi, Agnes kan, ketuanya. Aku tak bisa melawan,” jelas Jack. “Dia juga pernah menuduhku mencuri. Menjepit tanganku ke piano sampai tanganku dijahit, terus roti cicak itu. Aku heran, kenapa aku nggak punya kekuatan untuk melawan?” kata Jannie. “Apa?! Menjepit tanganmu ke piano? Itu pasti sakit banget!” seru Jack kaget sekaget kagetnya. “Bukan sakit, tapi mati rasa. Nih bekasnya. Itu terjadi karena aku masuk ke kelompok musik,” jawab Jannie. “Astaga!” seru Jack. “Aku belum ngerjain PR,” kata Jack lagi. “Kirain apa!” kata Jannie.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s