Kisah Sedih Jannie (Jannie’s Story 2)

Di rumah, Jannie mengunci pintu sambil menangis. Jannie terus berfikir, kenapa Agnes tega melakukan ini? Kenapa Jannie tidak mempunyai kekuatan untuk melawan? Sekarang, Jannie hanya bisa menangis karena sakit yang begitu kuat di jari jari Jannie. Dia keluar dan menonton TV supaya dia tak sedih lagi. Lalu Mama datang. “Jannie, kenapa tangan kamu?” seru Mama panik. Mama segera memanggil Papa untuk mengantarkan Jannie ke rumah sakit. Mendengar itu, Papa sangat panik dan membawa Jannie ke rumah sakit.

Di dalam ruangan, “Saya terjepit pintu saat hendak masuk ke kelas, Dok,” kata Jannie bohong. Dokter yang bernama Dokter Ricky itu pun mengangguk dan mengambil suntikan berisi obat obat anti infeksi. “Tidak apa apa. Kamu tutup mata saja kalau tidak ingin sakit,” kata Dokter Ricky. Jannie menutup mata. Tapi, dia tak merasakan apa apa saat disuntik. “Selesai. Tidak sakit, kan?” tanya Dokter Ricky. Jannie menggeleng. “Apa saya tadi disuntik? Saya tidak merasa apa apa,” kata Jannie. “Berarti, luka lukamu itu begitu parah. Mungkin, jepitan itu terlalu keras. Jadi, tangan kamu sementara harus di jahit. Karena, ada jari yang sobek,” kata Dokter Ricky. Jannie terdiam. Tak menyangka kalau luka ini begitu menyeramkan.

Di ruang operasi, Jannie diberi semacam obat bius. Jannie tertidur sejenak. Ketika bangun, dia sudah terbaring di ruang tadi. Jannie melihat tangannya. Tak seberapa mengerikan. Jari jarinya juga mulai membaik. Tak seberapa ngilu lagi. “Wah, sudah agak membaik! Terima kasih, Dokter!” kata Jannie dan keluar ruangan. Mama dan Papa pun bertanya pada Jannie. “Tanganku sudah mulai membaik. Tidak ngilu lagi,” kata Jannie. Mama dan Papa segera membayar biaya pengobatan Jannie dan pulang ke rumah.

Besoknya, Jannie masuk ke kelas tanpa merasa ngilu sedikitpun. Agnes dan kawan kawan kebingungan. “Nes, dia kok, seneng gitu, sih? Padahal, kemarin kamu menjepit tangannya keras banget, lho!” bisik Dona. “Dasar Anak Sombong! Kalian lihat saja, Anak itu akan malu nantinya! Dia akan dikeluarkan dari sekolah, dan keluar dari kelompok musik!” gumam Agnes. “Malu? Gimana caranya, Nes?” tanya Fina. “Sini, aku bisikin!” Agnes pun membisikkan rencananya. “Bagus, Nes! Kamu memang pintar dan jenius!” puji Dona. “Iya, dia pasti akan sangat malu!” timpal Fina. “Agnes gitu loh! Apapun ide licik, diotak Agnes masih tersimpan seribu satu macam cara!” kata Agnes.

Sehabis latihan, Jannie diajak Agnes, Dona, dan Fina ke mall. “Maaf, Nes. Nggak bisa, aku nggak biasa kalau nggak ada Inna,” kata Jannie. Inna memang sudah keluar dari kelompok musik. “Ikuti saja permintaanku!” seru Agnes. Jannie tak bisa mengelak. “Baiklah,” kata Jannie. Mereka menyeret Jannie dengan senang ke mobil pribadi Agnes. Di sepanjang perjalanan, mereka tampak akrab sekali. Jannie melupakan kecurigaannya pada mereka sehingga Jannie mulai menyukai Agnes dan kawan kawan.

Sesampainya di mall, Agnes membelikan Jannie parfum, sabun mandi, dan shampoo. Jannie mengucapkan terima kasih pada Agnes. Setelah dua jam muter muter di mall, mereka makan di sebuah restoran. “Ayo, pesan saja apa yang kamu suka. Oh iya, pesan pie apple dan jus avokad satu ya,” kata Agnes. “Aku pizza sama jus lemon,” kata Fina. “Jus melon dan spageti satu,” kata Dona. “Emm… pesan es jeruk dan nasi goreng,” kata Jannie. Lalu, pesanan datang. “Ayo makan saja. Aku yang bayar, kok,” kata Agnes sambil tersenyum. Jannie sangat senang dan mengucapkan terima kasih pada Agnes setelah sepiring nasi goreng itu habis.

Di depan toko kecantikan, Agnes merasa tertarik pada parfum bergambar artis warna ungu. “Jannie, aku minta tolong, ya?” pinta Agnes. “Apa?” tanya Jannie. “Tuh, kamu lihat, nggak, ada parfum yang bagus banget disana? Ambilin, dong!” kata Agnes. Jannie mengangguk dan segera mengambilkan parfum itu untuk Agnes dan kawan kawan. Ketika berbalik mau menyerahkan parfum itu untuk Agnes, mereka menghilang. Lalu, dia ditangkap pihak keamanan saat ada bunyi sirene seperti ambulans. “Kenapa kamu mencuri, Nak?!” seru seorang pria berbadan besar. “Saya tidak mencuri! ” kata Jannie. “Karena kamu mencuri, saya akan melaporkanmu ke pemilik toko ini!” seru pria itu. Jannie pun pasrah dilaporkan kepada pemilik toko itu. “Kalau kamu mencuri lagi, saya tak akan segan segan melaporkanmu ke polisi!” ancam pria itu. Jannie kabur dan menangis. Dia segera berlari ke rumahnya yang tak jauh dari mall.

Jannie mengunci kamarnya. Dia menangis kencang. Jannie benar benar malu dan sakit hati. Agnes menjebaknya. Mungkin, Agnes sangat membenci Jannie. Jannie takut dilaporkan ke polisi. Dia akan dijatuhi hukuman penjara. Jannie hanya bisa menjadikan hari ini adalah hari yang paling penderita baginya.

Sementara itu, Agnes dan kawan kawan tertawa terbahak bahak. “Berhasil, kan, rencana ku? Biarin dia masuk penjara! Akting ku bagus tidak?” tanya Agnes. “Sangat bagus! Aku setuju kalau kamu dapat piala Oscar sebanyak 100 kali,” kata Fina. Agnes mengeluarkan HP nya yang berwarna putih dilapisi casing berwarna emas. “Aku punya rencana lain. Aku akan sebarkan foto ini ke satu sekolah. Biar dia malu!” kata Agnes sambil menunjukkan foto Jannie yang ditangkap pihak keamanan. “Bagus, Nes! Kamu layak mendapatkan piala Oscar,” kata Dona. “Tapi, rasanya aku belum puas. Aku masih punya satu cara lagi untuk mempermalukan dia!” kata Agnes. “Lho? Emangnya nggak cukup, kita sudah menjepit tangan dia, kita sudah menuduh dia mencuri. Memangnya, kamu punya rencana apa? Aku harap yang lebih menyakitkan, ya!” kata Fina mendukung Agnes. “Pastinya. Ini seribu kali lebih menyakitkan dari biasanya!” kata Agnes sambil mengajak dua temannya itu pulang.

Di sekolah, semua orang membicarakan Jannie. Jannie mulai merasa aneh. Lalu, dia melihat sebuah foto yang cukup besar di papan tulis. Fotonya saat ditangkap pihak keamanan toko kemarin. Judulnya ditulis besar besar di papan tulis, “Ketika seorang Jannie mencuri”. Jannie mencabut foto itu secepat mungkin dan merobek robeknya. Dia tau, ini perbuatan Agnes, Dona, dan Fina. Adik adik kelas juga melihat foto itu. Agnes dan kawan kawan pun masuk. “Agnes! Kenapa kamu tega melakukan ini? Aku tidak mencuri!” kata Jannie kesal. “Teman teman, Jannie, si pencuri, marah besar kepada kita. Kok, dia nggak punya rasa malu, ya?” sindir Fina seiring dengan tawa anak anak se kelas. “Dasar pencuri! Kamu mau apa lagi sekarang, hah?! Kami menjebakmu. Seharusnya, kamu itu sadar. Kalau kamu itu mencuri!” kata Agnes tajam. “Aku tak pernah mencuri! Aku hanya menolongmu mengambil parfum itu,” bela Jannie. “Sudah, tinggalkan pencuri ini!” kata Agnes sambil pergi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s