First Day School (Jannie’s Story 1)

Jannie berjalan ke bangkunya. Dia adalah murid baru di sekolah International Boarding School. Dia duduk di samping anak bernama Inna. Lalu, di kejauhan sana, Jannie memergoki seorang gadis sedang melotot ke arahnya . Dia seperti tidak terlalu menyukai Jannie. Jannie belum tau namanya dan mencoba melupakan hal tersebut.

Di kantin, Jannie dan Inna sedang makan bekal masing masing. Lalu, ada seorang gadis dengan dua temannya. “Hei, kamu! Ngapain kamu disini, hah? Belum tau, ini bangku kami?!” tanya gadis itu galak. Jannie menunduk. “Yah, dia tuli. Percuma dong, aku marah marah!” ejeknya. “Kamu ini siapa sih? Bentak bentak seenaknya?” tanya Jannie. “Bisa mendengar juga kamu! Aku pikir kamu tuli. Maaf ya, Anak Sombong. Aku Agnes. Ini Dona, dan ini Fina. Ya sudah, aku akan mencari bangku lain! Dasar anak Sombong!” seru Agnes. Dia tertawa bersama teman temannya sambil pergi meninggalkan Jannie yang sedang sedih.

Jannie menyukai piano. Dia ingin masuk ke klub musik sekolah. Jannie mengajak Inna. “Baik, aku setuju. Ayo kita daftar!” kata Inna. Jannie sangat senang. Lalu, dia izin kepada Bu Lila, guru klub musik. “Boleh, dong! Ibu malah seneng dengarnya! Ayo, kita umumkan pada Agnes, Dona, dan Fina!” ajak Bu Lila. Mereka berdua terkejut. “Bu…., tidak jadi, deh,” kata Jannie. “Kenapa? Bukankah kamu dengan piano?” tanya Bu Lila. Jannie dan Inna pasrah dan ikut ke ruang musik. “Anak anak, klub musik kita kedatangan dua murid baru!” kata Bu Lila. “Jangan bilang kalau Jannie masuk ke kelompok kita, Bu!” seka Agnes. “Kamu salah Agnes! Jannie dan Inna akan masuk ke klub kita! Jangan membantah keputusan Ibu! Ibu harus berangkat pulang sekarang dan menyusul saudara Ibu di bandara!” kata Bu Lila sambil pergi. Jannie dan Inna pun keluar dari ruang musik. “Dasar anak Sombong! Akan aku buat kamu seperti di dalam neraka!” gumam Agnes kesal.

Di rumah, Jannie mengganti baju dan segera memainkan piano di rumahnya. Dia memiliki piano karena Mama dan Papa Jannie adalah seorang pianis hebat. “Yes! Terima kasih Tuhan! Aku bisa diterima di kelompok musik! Aku akan menjadi pianis hebat seperti Mama dan Papa,” kata Jannie senang. Dia menghabiskan waktu untuk bermain piano hingga larut malam. “Jannie! Kenapa kamu belum tidur! Sudah jam 9 malam! Cepat tidur!” perintah Mama. Jannie melompat ke atas ranjang dan menarik selimutnya. Mama mematikan lampu dan menutup pintu kamar Jannie supaya dia bisa tidur nyenyak.

“Heh, Jannie! Kamu dipanggil sama Bu Lila tuh, ke ruang musik sekarang! Kamu nggak usah ikut atau aku hajar kamu, Inna!” ancam Dona. “Aku akan ke ruang musik,” kata Jannie. “Cepetan! Bu Lila udah nunggu tuh! Jangan bikin malu kelompok kita!!” seru Dona sambil pergi.

Di ruang musik, Jannie mau menyalakan lampu. Tapi, sepertinya lampunya mati. “Bu Lila?” seru Jannie. Lalu, Agnes datang mendorong Jannie dengan keras. “Mana sahabatmu itu, hah?! Dia kenapa nggak ikut?! Sekalian aku panggang juga si Inna itu!” teriak Agnes. Dona dan Fina hanya tertawa. Agnes menarik rambut Jannie. Dona dan Fina ikut mendorong Jannie. Agnes membuka penutup piano. “Ingat, seumur hidup kamu, kamu nggak akan bisa main piano lagi, ngerti?! Rasakan ini!” Agnes menekan penutup piano itu sehingga tangan Jannie terjepit. “AAAA!” Jannie berteriak kencang. “Mampus kamu! Hahaha!” semuanya tertawa. Karena terlalu benci dengan Jannie, Agnes menekan penutup piano keras. Ketika penutup itu dibuka, tangan Jannie memerah. Agnes mendorong puas Jannie dan pergi bersama dua kawannya itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s