Namanya Tania

Della sudah mengenal Tania. Menurutnya, Tania anak baik. Cuma, Tania sering mengambil barang barang temannya. Seperti waktu itu, katanya, dia pernah mengambil cincin adik Farah, mengambil buku cerita Elsa, dan lain lain.

Di kelas, Della tampak murung. “Della, kamu, kok, kelihatan murung gitu?” tanya Farah. “Aku ingin memberikan buku buku bekasku pada Tania,” kata Della. “Kamu hati hati deh, sama Tania! Dia itu pencuri. Dia sudah pernah mengambil cincin adikku yang baru saja Papa beli. Hati hati, deh, kamu!” larang Farah. “Tapi, aku ingin menjadi sahabatnya,” kata Della. Farah terlihat kesal. “Kalau kamu berteman sama dia, kami akan menjadi musuhmu!” ancam Farah dengan nada kesal. Della terdiam. Dia memandang Tania yang sedang sedih, murung. Lalu, dia pergi ke taman.

Sehabis dari taman, Della menghampiri Tania. “Tania, kamu mau, kan, ke rumahku?” tawar Della tulus. “Mau, mau!” kata Tania. “Wah, bagus, deh! Nanti, aku pinjamin buku buku ceritaku. Bagus bagus, lho!” Della terlihat secerah bunga matahari. “Aku mau, Dell! Baru kali ini ada yang mau berbicara padaku! Terima kasih Della!” kata Tania senang. Lalu, Della mengajak Tania ke kantin. Karena Tania tidak membawa uang, akhirnya, Tania ditraktir oleh Della.

Di rumah Tania, “Tidak! Sudah berulang kali ibu mengingatkanmu!” kata Ibu. “Ayolah, Bu, baru kali ini ada yang mengajakku,” kata Tania. “Asal kamu tau, Tania. Ibu sangat malu atas perbuatanmu! Kamu memang miskin! Tapi, Ibu tak pernah mengajarimu mencuri!” tegas Ibu. Tania menunduk. “Ingat, kamu pernah mengambil cincin adik teman kamu! Kamu pernah mengambil buku teman kamu! Kamu pernah mengambil kalung teman kamu. Ibu sudah malu! Apa lagi yang harus Ibu tanggung atas perbuatanmu?” kata Ibu. Tania menunduk lebih dalam, matanya berkaca kaca ingin menangis. “Sekali lagi Ibu ingatkan, jangan pernah keluar rumah kecuali saat sekolah!” tegas Ibu Tania.

Di depan rumah Della, “Aduh, Tania mana ya?” gumam Della cemas. Lalu, Bunda Della menghampiri Della. “Della, kamu lagi apa?” tanya Bunda lembut. “Della sedang menunggu Tania,” jawab Della. “Kata Ibu Tania, dia sudah tidak diperbolehkan lagi untuk keluar rumah. Ibunya takut Tania mencuri lagi. Yaaa… Bunda juga tidak tau kenapa, padahal, Tania sudah berjanji tidak akan mencuri lagi,” jelas Bunda. Della terdiam. “Mendingan, kamu saja yang ke rumah Tania.  Ayo antarkan buku buku ini! Pasti Tania akan menjadi anak yang baik!” kata Bunda. Della pun segera mengantarkan buku buku ini ke rumah Tania.

Tok tok tok!

Pintu rumah Tania di ketuk oleh Della. Ibu Tania tampak membukakan pintu. “Oh, begini, tante, saya ingin memberikan buku buku ini untuk Tania,” kata Della. “Boleh saya melihat Tania?” tanya Della. “Oh, silahkan masuk, nak Della!” kata Ibu Tania. Di kamar, Tania tampak sedang membaca buku cerita lamanya. “Lho? Della? Kamu mau apa?” tanya Tania kaget. “Ini. Karena kamu tidak bisa keluar rumah, aku antarkan saja buku ini,” kata Della. “Terima kasih, ya, Della! Kamu sangat baik!” Tania memeluk Della. Lalu, Della pamit pulang.

Besoknya, Tania tampak tidak masuk. Sebagian anak terlihat senang karena tidak ada lagi pencuri di kelas ini. “Kok, kalian malah senang, sih?” tanya Della. “Ya iyalah! Kan, tak ada lagi pencuri disini! Ini sama saja impas karena buku ceritaku diambil oleh Tania yang sangat menyebalkan itu!” kata Elsa. Della hanya berjalan menuju bangkunya. Kata Miss Zahra sih, Tania pindah ke Bandung. “Semoga saja, Tania menjadi anak yang baik,” gumam Della.

One thought on “Namanya Tania

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s