Hana Kena Batunya

Hana adalah anak yang hobi belanja. Ya, bisa disebut shopaholic. Tapi, Hana suka bosan dengan barang barang belanjaannya. Orang tuanya sudah menegur Hana, tapi Hana tidak mengindahkan nasihat Mama dan Papa. Duh!

“Ma, minta uang dong! Tadi, di TV ada produk kecantikan baru! Hana mau coba!” rengek Hana suatu hari. “Tidak! Kamu pikir, uang Mama bertambah hari ini?! Uang itu tidak langsung jatuh dari langit!! Harus kerja dulu!” nasihat Mama. “Ayolah, ma!” Hana terus merengek. Mama pun menyerahkan uang sebesar lima puluh ribu. “Segini aja? Buat beli baju mana cukup?” protes Hana. “Kalau tidak mau, ya sudah!” kata Mama. “Iya, deh! Tapi nanti transfer ya?” pinta Hana. “Tidak!!” seru Mama. “Yaaaahhh…..” keluh Hana.

Di mall, Hana mengecek dompetnya yang berwarna ungu. “Huh, untung masih sisa dua ratus ribu kemarin! Tapi, toko nya dimana, ya?” gumam Hana. Dia melihat sekelilingnya. “Aha! Itu dia!!” seru Hana. Dia pun membeli bedak, facial foam, krim wajah, hand body, dan lain lain. “Lapar nih! Untung masihbsisa seratus ribu! Makan dulu ah!” kata Hana. Dia pun makan di restoran. “Habis ini ngapain, ya? Uang sudah habis. Aha! Ambil aja ditabungan!” kata Hana dan segera cari ATM. Setelah menemukan ATM, Hana pun lanjut. Tapi, lanjut ke salon, belanja produk kecantikan, baju, aksesoris, dan lain lain. Hana….. Hana!

Besoknya, Hana sekeluarga pindah ke Malang, Jawa Timur. “Yah, Mama! Kita kok, pindah ke tempat yang begituan sih? Kan, di Malang, nggak ada produk kecantikan, mall, sama yang lainnya deh!” celoteh Hana. “Hana! Kamu tak usah protes kalau tak mau ikut!!!” seru Kak Bella, kakak Hana. “Iya, deh,” kata Hana. Lalu, mereka berangkat.

Di Malang, Hana langsung masuk sekolah. “My name is Hana Marisa! Please call me Hana! Saya dari Bogor! Sebenarnya, saya tidak suka tempat ini! Nama Papa saya Daniel Richard. Hobi saya belanja,” kata Hana. “Hah?! Belanja? Hobi macam apa itu?” kata seorang teman bernama Lia. “Diam kamu kalau tidak suka dengan hobiku! Lagian, apa urusanmu dengan hobiku?” tanya Hana sok berkuasa. Huh! Aku kurang suka sama anak itu! Papanya saja, namanya Daniel Richard! Ibunya pasti Diva Wilder! Mereka kan, kerja di perusahaannya Papaku! Semoga, dia dapat balasan, batin Lia.

Besoknya, “AAAA! MAMA! PAPA! WAJAHKU KENAPAAAAA!!!!” teriak gadis kelas 4 SD itu. Wajah Hana berminyak, berkomedo, berjerawat, dn terdapat semacam panu di wajah Hana. “Wajahmu kenapa?” tanya Mama. “Tidak tau Ma! Huhuhu! Aku kapooooook!!!” seru Hana malu. “Lalu, aku sekolahnya bagaimana, Ma? Aku malu,” keluh Hana. “Kamu pakai cadar saja! Atau pakai masker. Sudah, kamu mandi dulu!” perintah Mama. Ketika keluar kamar, Kak Bella melihat wajah Hana dan tertawa terbahak bahak. Hana cemberut. Lalu, mandi.

Di sekolah, Hana tak banyak bicara, tak seperti biasanya. “Heh, Sombong, kamu kok jadi pemalu?” tanya seorang anak sambil tertawa. Lalu, seorang anak bernama Yuda datang dan menarik cadar Hana.”Heiiii!” teriak Hana sebal. Hana tak bisa bohong atau malu lagi. Dia ketahuan. “Makanya, jangan sombong! Ibu dan Ayahmu saja, bekerja di perusahaan Ayahku!” kata Lia. “Mana mungkin?!” seru Hana marah. “Ibumu namanya Diva, kan?! Terus, bapakmu dulu pernah pengangguran kan?!” seru Lia. “Be….. Betul,” kata Hana gelagapan. “Ya sudah! Berarti kamu sudah sadar!” kata Lia. “Maafkan aku, teman teman! Aku sombong!!” kata Hana sambil memeluk Lia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s