Harta Karun Milik Lily

Lily Anita, itulah namanya. Dia anak dari pedagang miskin. Bapaknya bekerja sebagai pedagang sayur dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Lily tak pernah mengeluh atas keadaan keluarganya yang miskin. Sungguh anak yang baik, ya?

Di sekolah, Lily diejek oleh Sarah, anak paling kaya di kelas. “Halo, anak miskin!! Mau apa kamu kesini? Kamu kan, nggak mampu beli buku?” ejek Sarah. “Aku mampu, kok,” kata Lily sambil tersenyum. “Huh! Mana buktinya?” tanya Sarah. Lily mengeluarkan semua bukunya. “Hah! Darimana kamu dapat uang?! Kamu kan, nggak pernah nabung?!” seru Sarah. “Itu aku fotokopi dari buku Janet,” kata Lily. “Argh! Dasar anak miskin!” kata Sarah sambil pergi. Lily geleng geleng kepala ketika melihat tingkah Sarah.

Di rumah, Lily bertemu Kate, sahabatnya. “Halo, Kate! Kamu apa kabar?” tanya Lily. “Baik! Eh, ayo main monopoli!!” ajak Kate. “Ayo! Udah lama nggak main monopoli!” kata Lily. Mereka pun bermain di rumah Kate yang besar. “Hei, aku kan, dapat tiga!” seru Kate. “Iya, deh! Tapi, aku dapat lima. Satu… Dua…. Tiga… Empat… Lima….. Enam, yeee! Aku naik tangga!” teriak Lily. Mereka bermain sampai jam 6 sore. “Kate, aku balik dulu ya! Bye!” kata Lily. “Dah!”

Besoknya, ada kerja bakti di sekolah Lily. “Ewwww…. Kan, aku habis manicure! Kukuku nanti rusak! Ewww..! Kotor!” teriak Selvy. “Jangan gitu lah!” seru Lily. Selvy terdiam. Saat Lily mencabut rumput liar, dia menemukan sebuah peta. Karena tidak mau ketahuan, dia izin ke kamar mandi. Di kamar mandi, dia membacanya. “Lho? Ini kan, jalan menuju kebun? Ah, pulang nanti, aku akan mencarinya!” bisik Lily sambil memasukkan peta itu kedalam sakunya. “Dari mana kamu?” tanya Janet. “Habis buang air,” jawab Lily berbohong.

Di rumah, Lily mengikuti jalan yang ada di peta. “Ke sini, ke sini, dan….. aha! Ini tempatnya!” seru Lily dan segera menggalinya dengan tangan. Lalu, tangannya menabrak benda keras. Lily segera mengambilnya. Sebuah peti tua yang kusam. Ketika dibuka, Lily melihat emas, perak, berlian, uang rupiah, dollar, semuanya lengkap di dalam situ. “Ibu! Ayah! Ada harta karun!” teriak Lily. Ayah dan Ibu pun datang dan terkejut melihat harta karun itu. “Alhamdulillah, terima kasih, Ya Allah!!” kata Ayah. “Yah, Ayah dan Ibu bisa naik haji dan memberikan sumbangan ada orang miskin!!” kata Lily. “Ide bagus, Nak!!” kata Ibu. Mereka pun membawa pulang peti itu. Terima kasih, Ya Allah! Engkau telah memberikan rezeki yang melimpah bagi kami. Terima kasih, Ya Allah. Kau memang maha adil! batin Lily.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s