Mira dan Dania

Dania sedang sebal sebalnya dengan Mira, anak baru yang sifatnya nyebelin dan sombong. Dia selalu memamerkan barang barangnya. Dan, dia juga selalu mendapat nilai bagus. Dania sebaaal sekali.

Hari ini ulangan IPS. Mira selesai duluan. Apa apa harus dia yang duluan!! batin Dania. Mira pun diberi uang sebesar tiga ribu rupiah oleh Bu Zanti, guru IPS. Lalu, Mira kembali ke tempat duduknya. Dia memasang tatapan “1-0” terhadap Dania. Lalu, Dania menginjak kaki Mira. “Aawww!!” teriaknya. “Mira? Kamu kenapa?” tanya Bu Zanti. “Dia menginjak kaki saya, Bu!” kata Mira. “Betul, Dania?” tanya Bu Zanti lagi. “Tidak, Bu! Dia berbohong! Jangan bohong kamu!” seru Dania, membela diri. “Mira! Kamu saya hukum karena sudah membuat kelas ini menjadi riuh mendadak! Cepat, berdiri di luar kelas!” perintah Bu Zanti. Dania tersenyum penuh kemenangan, sehingga Mira melotot kepadanya.

Saat istirahat, Mira menggebrak meja Dania. “Heh! Kamu berani beraninya membuat aku malu tadi!” seru Mira. “Aku?! Aku tak mempermalukanmu!” kata Dania cuek. Mira mendorongnya. Dania membalas. Mereka pun bertengkar hingga mereka saling jambak-menjambak. Akhirnya, Dania secara tak sengaja membenturkan kepala Mira ke kursi. “Aaah!” jerit Mira. Lalu, Bella sang Ketua Kelas datang melerai. “STOP!!!” teriak Bella kencang. “Sudah! Berhenti bertengkar! Dania! Keluarlah!” perintah Bella. “Mampus, kau!” seru Dania.

Di rumah, Dania memikirkan sesuatu. Apa yang akan terjadi pada Mira? Tapi, dia tak mencemaskannya lagi. Karena, kalau orang tua Mira melapor kepada polisi, ayah Dania akan berusaha membelanya. Ayah Dania adalah kepala Pengadilan Negeri di Bogor. Tapi, masalahnya, kalau Mira gagar otak atau amnesia, siapa yang tanggung jawab nanti? Duh, pusinggg!!

Besoknya, dia bertemu Mira yang sedang duduk dibangkunya bersama ibunya. Teman teman pun mengelilingi Mira. “Itu, Ma! Dia orangnya!” seru Mira. Ibunya berderap ke arah Dania. “Kenapa kamu tega melakukan ini kepada Mira?” tanya ibu Mira. “Saya tak sengaja, kok!” kata Dania tanpa dosa. “Bohong! Saya akan lapor ke Pengadilan Negeri supaya kamu di penjara!” ancam ibu Mira. “Heh, kenapa saya mesti takut sama ancaman Anda? Ingat, Papa saya adalah ketua Pengadilan Negeri! Jadi, Anda tak boleh melaporkan saya atau Mira akan menjadi sasaran baru saya! Dan Anda sekeluarga yang akan dipenjara!” ancam Dania panjang lebar. “Kamu berani sekali melawan orang tua!” seru ayah Mira. “Saya hanya memperingatkan Anda supaya lebih mendidik anak Anda yang kurang pendidikan itu!” sahut Dania tanpa dosa sedikitpun. “Mama, Papa, aku tak apa apa. Pulang saja,” kata Mira lembut. Lalu, mereka pulang.

Di kelas, Dania sedang mengerjakan PR. Lalu, Mira mendekati bangkunya. “Dasar anak pembawa masalah! Hampir saja aku dioperasi! Jadi, jangan pernah mengganggu Princess Mira yang cantik!” katanya sombong. “Huh, apaan cantik? Putri kok, kepalanya dibalut perban?” kata Dania tak kuasa menahan tawa. “Kampungan!” seru Mira. “Oh iya? Aku pikir kamu yang kampungan!” bentak Dania. Mereka pun saling mengejek dan akhirnya saling mendorong. Dania pun terjatuh. Punggungnya sakit. Lalu, karena tak terkendali lagi emosinya, dia menjambak rambut Mira dan menjatuhkannya ke lantai. Hidung Mira mimisan. Tapi, Dania puas sudah membuat Mira sadar kalau selama ini dia yang salah. Bella pun menegur Dania. “Kamu jangan ikut campur atau nasibmu akan sama seperti dia!” ancam Dania. Teman Dania, Anita, mendukung Dania. “An, ayo kita pergi! Kalau ada yang mengadu, akan menjadi sasaran berikutnya!!!” teriak Dania.

Di rumah, “Aduh, kenapa aku terus kepikiran sama Mira, ya? Apa aku harus minta maaf? Ah, masa iya?” tanya Dania. Dia terus berpikir. “Dania, kamu kok, mondar mandir terus dari tadi?” tanya Mama tiba tiba. “Oh, cuma lagi mikir, Ma!” jawab Dania bohong. “Mikir apa?” tanya Mama lagi. “Emm…, tadi ada PR, terus soalnya banyaaak banget! Bisa sampai empat halaman! Susah susah lagi!” kata Dania mencari alasan. “Ya sudah! Ayo makan, ada roti isi keju dan orange punch kesukaan kamu!” ajak Mama.

Di sekolah, Dania menaruh tasnya. Lalu, Anita datang membuyarkan lamunan Dania. “Hei!” Anita memetik jari di depan muka Dania. “Eh! Oh, kamu Nit! Ada apa?” tanya Dania. “Enggak ada apa apa. Ya sudah aku pergi dulu!” seru Anita. Dania hanya membuang muka ke bangku Mira. “Mira, aku minta maaf!” kata Dania tiba tiba. “Benarkah? Kau bersungguh sungguh?” kata Mira senang. “Iya,” jawab Dania. “Maafkan aku juga! Aku juga salah,” Mira memeluk Dania. Damai deh!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s