Tetap Semangat, Agnes!!!

Kelas Fifi kedatangan teman baru. “Hai! Nama saya Agnes. Agnes Wilona. Saya dari Jakarta. Saya harap, kalian semua bisa menerima saya dengan baik disini,” kata Agnes. “Agnes, kamu duduk di sebelah Monica, ya!” perintah Miss Levy, wali kelas Fifi. Lalu, Agnes duduk disebelah Monica. Selama pelajaran, Agnes selalu bisa menjawab pertanyaan Miss Levy. Diam diam, Fifi merasa tersaingi.

Saat istirahat, Fifi curhat kepada dua temannya yaitu Nadia dan Elma. “Aku heran deh, sama Agnes. Dia itu sok pintar, sok cantik, centil, pokoknya, dia menyebalkan!” curhat Fifi. “Aku juga sebal. Tadi, dia itu sengaja ndorong aku. Terus, dia pura pura nggak sengaja,” tambah Elma. Lalu, Agnes dan Monica datang. “Aku ada rencana! Sudah, kalian sini saja!” perintah Fifi. “Mon, kamu tunggu sini, ya! Aku mau ke perpus dulu,” kata Agnes. Setelah Agnes pergi, Fifi mendatangi bangku Monica. “Heh, Kurus, mana teman mu yang belagu itu?” tanya Fifi kasar. “Ke.. ke perpus, Fi,” jawab Monica. “Oh iya, bawa apa dia?” Fifi mengubrak-abrik bekal Agnes. “Ooo, dia bawa apel sama nasi goreng ternyata,” kata Fifi dan mencoba apel Agnes. “Bwehh! Apaan nih?! Nggak enak banget, pahit lagi! Eh, kalau cari teman, yang pinter dikit, dong!” seru Fifi. Lalu, ketika dia mencoba nasi goreng Agnes, “Hueeeek! Ini apaan coba?! Enggak enak! Kok bisa, sih, tuh anak pinter kalau makanannya sehari hari cuma beginian? Ah, nggak pinter banget kamu cari teman!” sentak Fifi sambil menaruh nasi goreng Agnes, lalu balik ke bangkunya. Ketika Agnes datang, “Mengapa bekalku menjadi seperti ini?” tanya Agnes. Lalu, Monica memandang Fifi cs. Agnes pun ikut memandang mereka. “Apa lihat lihat?! Anak baru belagu!” ejek Fifi. Agnes pergi sambil menangis dan disusul Monica. “Rasain tuh, anak sok pintar!” timpal Nadia.

Di kelas, Agnes sedang membaja buku Sejarah bersama Monica. “Heh, buku ini mau aku pinjam, tau! Bodoh kalian! Pergi sana!” usir Fifi. Monica berdiri. “Kamu, kok, berubah sih? Nggak kayak dulu?” tanya Monica heran. “Udah, diam kamu, Kurus! Atau mau kutendang?” ancam Fifi. Nadia merebut buku itu. “Sudah, Fi! Nggak penting ngurusin si Kurus sama temannya itu! Mendingan, kita ke perpus aja deh! Heh, Centil, ambil nih bukumu! Kita nggak butuh buku itu!” seru Elma sambil melotot. Agnes menunduk. Lalu, Nadia mendorong kepala Agnes ke bawah. “Sekalian aja biar bungkuk! Kayak nenek nenek! Hahaha!” tawa mereka. Nadia melepaskannya dan mendorong Agnes. “Huh, dasar belagu!!” kata Fifi sambil melempar buku Sejarah milik Agnes.

Di rumah, Fifi merebahkan dirinya ke kasur yang empuk. “Rasain, tuh, Anak Belagu!” kata Fifi. Lalu, dia mandi dan ganti baju. “Inah! Inah!! Sini!!” teriak Fifi. Pembantunya yang bernama Inah itu pun datang. “Ambilin frozen yogurt rasa stroberi di kulkas!” perintah Fifi. “Sudah habis, Non. Tadi diminum Nyonya,” kata Bi Inah. “Beli di supermarket! Nih uangnya! Cepetan! Atau kulaporkan pada Papa biar kamu dipecat!” ancam Fifi. Dengan cepat, Bi Inah membelikan Fifi frozen yogurt rasa stroberi di supermarket. Fifi pun melihat TV. “Ini Non, pesanannya,” kata Bi Inah. Fifi merebutnya dengan kasar. Setelah itu, dia tidur.

Besoknya, Fifi sedang bercakap cakap dengan Nadia dan Elma. Lalu, Agnes datang dan tidak sengaja mendorong Fifi. “Ma.. maaf, ya Fi! Beneran, aku nggak sengaja,” kata Agnes gugup. Fifi berdiri dan langsung menampar Agnes. “Kamu ngajak ribut?! Hah?!” seru Fifi. “Aku beneran nggak sengaja, Fi. Beneran,” sahut Agnes. “Bilang aja kamu mau ngajak ribut sama aku!” bantah Fifi kesal. Agnes terdiam. “Agnes! Agnes!” seru Monica dan membantu Agnes berdiri. “Fifi! Akan kulaporkan perbuatanmu pada Miss Levy!” kata Monica. Fifi berderap menuju Monica. “Kalau kamu mengadu, yang aku cari berikutnya adalah kamu, Kurus! Jangan jadi pahlawan, deh! Ingat itu!” Fifi mendorong Monica. “Sudah, Mon. Kamu jangan melawan Fifi,” kata Agnes sambil mengangkat Monica. “Apa lihat lihat?! Udah pergi sana!” seru Elma. Agnes dan Monica pun pergi. “Ini baru permulaan. Masih ada lagi serangan buat kamu, Agnes!” kata Fifi.

Waktu istirahat, Fifi bersama dengan Nadia dan Elma duduk di bangku kantin. Lalu, Agnes datang tanpa Monica. Fifi mengedipkan mata sebelahnya. Lalu, dia pergi menuju bangku Agnes. “Heh, anak baru, mana si Kurus Monica temanmu itu? Sudah pindah? Atau, dia merasa nggak pantes sekolah disini?” tanya Fifi. “Dia ke rumah neneknya. Besok lusa dia balik,” jawab Agnes. “Bagus, dong. Oh iya, apa nih?” Fifi merebut kotak bekal Agnes. “Oh, roti isi telur. Buat aku ya? Kamu jangan pelit pelit ya, sama aku!” kata Fifi dan mengambil sepotong roti. Lalu, dia membuangnya dan menginjak injak roti itu. “Fifi, itu kan….” kata kata Agnes di potong oleh Fifi. “Apa? Bekal satu satunya? Oh, kasihan. Nih, makan roti itu!” perintah Fifi. Agnes mengambil roti itu dan membuangnya. “Heh, malah dibuang! Awas ya!” ancam Fifi.

Pulang sekolah, Fifi dan kedua kawannya itu mampir ke kedai es krim dekat sekolah. “Aku bener bener nggak nyangka. Dia itu kok bisa sih, bertahan walaupun udah kita siksa gitu?” kata Fifi. “Ya… mau gimana lagi, Fi,” kata Nadia. “Tapi, rencana ini pasti berhasil. Sini, aku bisikin!” kata Fifi sambil membisiki Nadia dan Elma. “Wah, usulmu bagus, Fi!” puji Elma. “Lihat saja, dia pasti kapok telah berurusan denganmu, Fi!” kata Nadia. “Ya. Dia akan aku buat kapok sudah mendorong aku tadi!” sahut Fifi.

Di rumah, Fifi berteriak teriak memanggil Bi Inah. “Bikinkan coklat panas!” perintah Fifi. “Waduh, coklatnya habis, Non! Kalau susu hangat gimana?” kata Bi Inah dengan takut. “Tolol, kamu! Beli sana di warung sebelah! Gitu aja repot!” seru Fifi kesal. “Iya, sabar, Non…” kata Bi Inah dan langsung menuju warung sebelah untuk membeli coklat panas. “Huh, lihat saja, rencanaku pasti berhasil!!” gumam Fifi. Lalu, dua menit kemudian, Bi Inah langsung memberikan coklat panas bubuk pada Fifi. “Bodoh, ya! Bikinin sekalian! Jangan buat aku marah! Aku lagi bad mood nih!!” kata Fifi sebal. Lalu, Bi Inah langsung ke dapur dan membuatkan coklat panas untuk Fifi. Lima menit kemudian, Bi Inah membawakan coklat panas untuk Fifi. “Huh, sudah, pergi sana!” usir Fifi. Lalu, dia meminum coklat panasnya dan nonton TV.

Di sekolah, Agnes sedang meminjam buku di perpus. Lalu, Fifi cs memandangnya. “Heh, Anak Sombong, aku merasa bersalah karena menampar kamu kemarin. Ini, ada teh untukmu. Ambillah, Anak Sombong,” paksa Fifi. Agnes menolak. “Heh, anak baru, kamu menolak pemberianku?!” bentak Fifi. Agnes tak berani mengelak. Lalu, dia mengambil teh itu dan meminumnya. “Hueeekkk!!!” Agnes melepehnya karena teh itu pahit sekali. “Hahaha! Rasakan kamu, Gadis Sombong! Karena kamu sudah mendorongku dan pura pura tak sengaja, kami ada satu hadiah lagi untukmu!!” Fifi menarik Agnes ke kamar mandi. Mereka menumpahkan teh pahit itu ke baju Agnes. “Hahaha! Agnes, Agnes! Kamu sungguh bodoh, ya. Kamu tuh sudah pembohong, sok pintar, pake baca buku segala!” kata Elma. Agnes menangis. “Heh, kamu itu jangan pura pura nangis, ya!” Fifi menampar Agnes. “Kurung dia disini!” perintah Fifi. Namun, kaki Agnes menyebabkan pintu tak bisa ditutup. Fifi marah besar. Lalu, dia menyeret kaki Agnes dan menguncinya. Sebelum itu, Fifi berkata. “Kalau kamu mengadu, kamu akan aku kunci di gudang!” kata Fifi sambil meninggalkan kamar mandi. “TOLONG! TOLONG! TOLONG!” jerit Agnes. Lalu, Dina membukakan pintu. “Agnes? Kamu…” Dina tak melanjutkan kata katanya. “Makasih, ya, Din!” kata Agnes sambil memeluk Dina. “Siapa yang melakukan ini?” tanya Dina. “Entah,” jawab Agnes berbohong.

Dina dan Agnes menuju kelas. Lalu, mereka dapat informasi, kalau Monica pindah sekolah. Agnes sedih sekali. Lalu, Dina berfikir. Dia rasa, yang mengunci Agnes adalah Fifi cs. Dina tau, Fifi adalah anak yang paling ditakuti di kelas. “Pasti yang menguncimu di kamar mandi Fifi cs, kan?” tebak Dina. Agnes terdiam. Dia takut, kalau dia mengadu, dia pasti akan mengurungnya di gudang. “Tidak, kok,” kata Agnes berbohong. “Jangan berbohong, Agnes!” kata Dina penuh keberanian. “Iya, Din,” jawab Agnes. “Sudah kuduga,” kata Dina sambil berjalan ke ruang guru untuk menemui Miss Levy. “Dina! Dina! Tunggu!” teriak Agnes. Di ruang guru, “Agnes!” panggil Miss Levy. “Apa betul, kamu dikurung di kamar mandi oleh Fifi?” lanjut Miss Levy. “Iya, Miss,” kata Agnes. “Dina, panggil Fifi dan kawan kawannya kemari!” perintah Miss Levy. Lalu, Fifi cs datang. “Fifi, apa betul, kamu dan teman temanmu mengurung Agnes di kamar mandi?” tanya Miss Levy. Fifi mengangguk. “Fifi! Kamu saya hukum! Kamu harus membersihkan kamar mandi selama satu bulan!” kata Miss Levy.

Kini, Fifi sudah berubah. Nadia dan Elma pun sudah minta maaf pada Agnes. Semua pun menjadi damai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s