Sekolah Baru (Angel’s Story 2)

Angel sudah mendapatkan sekolah baru bernama Smart Children School. Kata Dad, itu adalah sekolah paling besar di Jerman. Karena, ada SMP dan SMA nya pula. Angel sangat senang.

Besoknya, Angel memakai serangam SCS (Smart Children School) dan menyemprotkan parfum aroma melati. Lalu, ke bawah untuk sarapan. “Angel, ini bekal untuk kamu. Nanti, kamu tinggal ambil minuman di sekolah,” kata Mom. Angel pun mengambil dan membuka bekalnya. Ternyata roti telur mata sapi! Kesukaan Angel! Setelah makan, Angel berangkat ke sekolah.

Di sekolah, Angel masuk bersama Miss Calista, wali kelas Angel yang baru. “Nama saya Angelina Guardian. Panggil saja Angel. Saya pindahan dari Amerika. Saya pindah kesini karena Dad saya pergi menjenguk Bibi saya, Rose,” kata Angel. “Baiklah Angel, kamu duduk di sebelah Sandy ya!” perintah Miss Calista. Lalu, dia duduk disebelah anak pendiam. Lalu, dia menengok seorang gadis. Gadis itu melotot ke arah Angel. Angel jadi takut dan berbalik. “Angel! What’s going on?” tanya Miss Charlotte, guru Bahasa Inggris. “Nothing I’m fine, Miss,” jawab Angel.

Saat istirahat, Sandy dengan baik hati mengambilkan Angel susu gratis di kantin. “Terima kasih, Sandy,” kata Angel.  Lalu, ada dua orang gadis tengah melotot ke arah mereka. Angel ingat. Itu gadis yang tadi melotot padanya saat pelajaran Bahasa Inggris. “Rupanya kamu, Anak Baru! Ngapain tadi kamu ngelihatin aku?!” bentaknya. “A… aku… hanya ingin melihat wajahmu!” jawab Angel gugup. “Oh iya, perkenalkan, namaku Cassy. Ini Maria. Kami adalah jagoan di kelas! Semua orang menakuti kami! Awas kalau kamu sampai berani macam macam lagi!!” seru anak bernama Cassy itu. Sandy dan Angel hanya menatap takut. “Tenang aja! Dia hanya pandai berbicara! Kalau pelajaran Matematika, tampangnya sudah seperti keledai yang kelelahan,” jelas Sandy dan melanjutkan bercanda bersama Sandy.

Pulang sekolah, Angel melihat sebuah piano di pinggir perpus. “Piano? Coba ah!” seru Angel. Baru menekan dua tuts piano, Cassy dan Maria datang dan segera mendorong Angel dari kursi piano. Untung Sandy segera datang. “Ngapain kamu disini?! Ini tempat latihan kami! Pergi!!!” teriak Cassy. Sandy angkat bicara, “Cassy! Apa salahnya kalau Angel bermain piano?” tanya Sandy. “Aku nggak sudi ada anak baru duduk di kursi istimewa ini!” balas Maria. “Kan, Angel hanya mencoba!” seru Sandy. “Jangan ikut campur atau aku akan menjatuhkanmu dari lantai 2 ke lantai 1!!!” ancam Cassy yang membuat Sandy terdiam. “Ayo, Mar, kita pergi! Sekali lagi kamu berani menyentuh piano ini, apapun akan kulakukan demi menjauhkanmu dari piano ini! Ngerti?!” bentak Cassy dan pergi.

Di rumah, dia membanting tas. “HUWAAAAAA!” teriak Angel lalu menangis. Dia kesal. Cassy benar benar membuatnya terintimidasi. Angel melempar bonekanya. Lalu, Kakak sepupunya, Katrina masuk. “Angel! Ada apa?!” seru Kak Katrina cemas. “Kakak nggak usah ikut campur urusanku!!!” jawab Angel. Kak Katrina pun pergi. Lalu, karena lelah, Angel tertidur.

Besoknya, pelajaran Matematika. Mr. Calvin, guru Matematika, menulis soal di papan. Lalu, beliau melihat Cassy dan Lita, teman sebangkunya, sedang ngobrol. “CASSY! Kerjakan soal terakhir! Cepat!” perintah Mr. Calvin. Cassy menelan ludah. Sandy mengatakan kalau soal terakhir ini adalah soal yang ia yakin tidak ada satupun anak yang bis mengerjakannya. “Cassy, silahkan mencari bantuan!!! Kalau tidak dapat, dan kamu tidak bisa mengerjakan, sekelas tidak punya waktu istirahat sampai kamu bisa menjawabnya!!” ancam Mr. Calvin. Angel mengangakt tangannya. Lalu, dia maju ke depan dan mengerjakan soal. “Bagus, Angel!! Kamu pintar sekali! Jadi, berikan tepuk tangan pada Angel. Ayo!” Anak anak bertepuk tangan, kecuali Cassy. Dia memandang Angel dengan sangat kesal.

Saat makan siang, Cassy dan Maria menghampiri Sandy dan Angel. “Gadis Sok Pintar! Aku mempunyai roti untukmu! Cepat, ambillah!” perintahnya. Angel menolak. “Hei, kamu menolak pemberianku?!” bentaknya memaksa. Angel tak bisa mengelak. Dia mengambil roti itu dan keluarlah dua kecoa hitam. Angel berteriak dan membuang roti kecoa itu. “Rasakan kamu Gadis Sok Pintar! Kamu sudah mempermalukan aku di depan anak sekelas! Dan kalau kamu berulah lagi, kamu akan merasakan yang lebih parah!” ancam Cassy. “Hey, apa apaan kamu, Kasir?” ejek Sandy sebal. Cassy melotot. Dia mendorong Sandy dan menarik kerahnya. Lalu, dibenturkannya kepala Sandy ke kursi kayu. “Kamu bilang aku Kasir?!” seru Cassy. Sandy merintih. Ikat rambutnya yang putih menjadi merah sedikit. “Dan awas kalau kamu lapor!!” kata Cassy kejam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s