Via dan Sasha

“Bu, saya kan, yang menjadi putrinya?” kata Sasha penuh harapan. “Jangan, Bu! Dia tuh, nggak bisa main drama!! Ceritanya saja tidak tau! Bagaimana kalau kita sudah main nanti? Malu maluin!!” seka Via. “Hei, aku ini tau ceritanya tau!!” sahut Sasha. “STOP! DIAM SEMUA!!!!” teriak Bu Lita. “Oke, saya akan memilih Melisa menjadi putri kalau kalian terus berdebat!!! Ibu tidak akan memilih siapapun dari kalian sebelum ada yang mengalah! Melisa!!” panggil Bu Lita. “Iya, Bu?” kata Melisa, anak yang agak sombong dan centil. “Saya memilih kamu untuk menjadi putri!!” sahut Bu Lita. “Wah! Saya menjadi putri?! Wah, senangnya!” sindirnya centil. Via dan Sasha melirik kesal.

Jam istirahat, Via memanggil Sasha ke kamar mandi. “Sha, aku sekarang sudah malas untuk berteman denganmu,” jelas Via. “Cuma itu yang mau kamu bicarakan sama aku? Aku juga malas berteman sama kamu!” omel Sasha. “Terus, sebaiknya kita putus persahabatan,” lanjut Via. “Putus persahabatan? Oh, senangnya!” kata Sasha dan pergi. “Kok, kamu malah senang, sih?” tanya Via sambil meraih tangan Sasha. “Karena aku jengkel sama kamu! Kamu tuh, coba kalau kamu tadi ngalah sama aku! Pasti kita masih bisa bersahabat!” seru Sasha. Oh betapa menyesalnya aku bilang seperti itu tadi, pikir Via.

Pulang sekolah, Sasha masih duduk di bangkunya. Via menghampirinya. “Sha, maafkan aku sudah bilang seperti itu sama kamu tadi,” ungkap Via menyesal. “Nggak usah akting, deh! Lagian, kamu tadi juga sudah bilang! Keputusan tetap keputusan, oke?!” seru Sasha. Via terdiam. “Sudah, aku mau pulang! Jangan pernah ganggu aku lagi! Bye!” sambung Sasha sambil meneteskan air mata, dan pergi keluar kelas.

Di rumah, Sasha segera mengganti baju. Lalu makan siang. Di kamar, dia melihat kalung yang pernah Via berikan ke Sasha. Aku sangat menyesal sudah membuatmu sedih karena aku dan perkataanku tadi, gumam Sasha. Dia menangis. Dia menyesal, telah meninggalkan sahabat terbaiknya sejak TK. Lalu, Sasha mengusap air matanya. Aku harus minta maaf sama Via! Harus! tekad Sasha dalam hati.

Besoknya, dia menghampiri Via. “Via, aku minta maaf ya,” kata Sasha. Via tak menghiraukan. Dia tetap fokus pada buku ceritanya yang belum selesai ‘dilahapnya’. “Via, aku minta maaf!” kata Sasha. “Oke aku juga minta maaf, ya, Sha!!” kata Via. Mereka kembali bersahabat, deh! Senangnya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s