Bye, Kak Anna! (Annissa’s Story 6)

Sudah dua hari, Kak Anna di rawat di rumah sakit. Kondisinya makin kritis. Kata Dokter Michael, Kak Anna mulai semakin dekat dengan kematian karena kanker yang diderita Kak Anna makin mengganas. Anni sangat cemas.

Di sekolah. Anni memberitahukan ini pada Nissa. “Ya Allah! Yang betul, Ann?!” kata Nissa kaget. “Iya, Nis. Aku khawatir, nih,” jawab Anni lirih. Anni meneteskan air mata. “Sudah. Berdoa terus, ya! Supaya Kak Anna selamat. Aku juga pasti berdoa untuk keselamatan Kak Anna,” kata Nissa. “Terima kasih, ya, Niss!” Anni memeluk Nissa dengan erat.

Pulangnya, Anni ke rumah sakit. Dia segera berlari ke kamar Kak Anna. Ada Dokter Michael disana. “Alhamdulillah, kondisi Anna semakin membaik. Kanker yang dideritanya pun segera melemah. Kemungkinan besar, Anna akan sembuh,” kata Dokter Michael. “Amin!” seru Anni senang. Saat keluar, dia memberitahu Mama dan Papa. “Apa?! Wah, alhamdulillah, ya, Pa!” sahut Mama sangat ceria. Lalu, Mama dan Papa masuk. “Ma… Pa… Anna bakalan sembuh! Sembuh!” seru Kak Anna dan memeluk Mama dan Papa. “Semoga, aku bisa cepat melihat Anni. Oh, iya, mana Anni?” tanya Kak Anna. Lalu, Anni masuk. “Kak Anna!” seru Anni dan memeluk Kak Anna. “Kakak bakalan sembuh, Ann!!” kata Kak Anna. Lalu, Anni, Mama, dan Papa pamit pulang.

Besoknya, Anni segera memberitahukan ke Nissa. “Yang benar?! Wah, selamat, ya!” kata Nissa. Anni tersenyum. “Eh, yuk ke kantin! Aku traktir, deh!” ajak Anni. “Yakin? Beneran, nih? Buat apa kamu traktir aku?” goda Nissa. “Huh! Mau, nggak? Kalau nggak mau, ya sudah!” seru Anni. “Ya sudah. Ayo!” kata Nissa.

Saat pulang sekolah, Anni pergi ke rumah sakit dulu. Ketika masuk, terlihat Kak Anna sedang dicek kesehatan. “Oh, kamu Anni! Kondisi Anna mulai kritis. Lebih kritis dari biasanya,” kata Dokter Michael. Anni sangat sedih. “Dan, umurnya tinggal satu hari lagi,” lanjutnya. Langsung saja Mama pingsan. “Dokter, apa tidak ada cara lain untuk menyelamatkan Anna?” tanya Papa. “Tidak ada, Pak! Kalau kita melakukan kemo, Anna akan meninggal setelah kemo dilaksanakan,” jawab Dokter Michael. Lalu, Anni sekeluarga pulang.

Besok libur. Anni ke rumah sakit lagi. Di rumah sakit, Dokter Michael dan dua orang suster sedang menangani Kak Anna. “Bagaimana kondisi Anna, Dokter?” tanya Papa. “Kondisinya semakin saja memburuk. Dan, kami tidak bisa melakukan apa apa lagi,” jawab Dokter Michael. Lalu, beliau pergi. “Anni…….” panggil Kak Anna. “Kakak mau pergi dulu, ya! Kamu harus nurut sama Mama dan Papa,” lanjut Kak Anna. “Enggak!! Kakak nggak boleh pergi!!” seru Anni sambil menangis. Lalu, Kak Anna menghembuskan nafas terakhirnya. Refleks, Mama pingsan. Anni menangis sambil memanggil Dokter Michael. Setelah diperiksa, “Maaf Pak, Anna telah tiada,” kata Dokter Michael. Anni hampir saja jatuh. Dia merasa sedih ditinggal Kakaknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s