Kak Anna (Annissa’s Story 5)

Hari Minggu. Anni sedang menonton TV. Tiba tiba, “Aaaaaa!!!” ada seseorang yang teriak. “Kak Anna?” Anni langsung ke kamar kakaknya itu. Lalu, terlihat Kak Anna pingsan. “Mama! Papa! Kak Anna pingsan! Mama! Papa!” teriak Anni cemas. Mama dan Papa langsung melihat ke kamar Kak Anna. “Pa! Cepat, bawa ke rumah sakit! Ayo, Pa!” kata Mama panik. Lalu, Papa, Anni, dan Mama cepat cepat membawa Kak Anna ke rumah sakit.

“Bagaimana kondisi Anna, Dokter?” tanya Mama. “Ternyata, kanker yang diderita Anna kambuh kembali,” jawab Dokter yang bernama Michael itu. “Kanker? Anna mengidap penyakit kanker?” kata Mama tak percaya dan pingsan. “Mama!!!” jerit Anni. Lalu, Anni masuk ke dalam kamar dimana Kak Anna dirawat. “Ahhh…. Aku dimana, Ann?” tanya Kak Anna kepada Anni. “Di rumah sakit. Ternyata, kanker Kakak kambuh lagi,” jawab Anni. “Ya sudah, Kak. Kakak istirahat dulu aja, ya? Aku mau keluar dulu,” kata Anni sambil keluar kamar.

Besoknya, Anni segera memberitahukan kabar buruk ini kepada Nissa. “Apa?! Kanker? Kakakmu mengidap penyakit kanker?” tanya Nissa tak percaya. “Iya. Katanya, penyakit ini sudah lama hinggap di tubuh Kak Anna. Tapi, aku tidak pernah tau sebelumnya. Dan, diperkirakan Kak Anna meninggal dunia 3 hari lagi,” jawab Anni. “Aku turut berduka cita ya, soal Kakakmu,” kata Nissa sambil memeluk Anni.

Di rumah, Anni segera mengambil sekantong permen yang kemarin dia dapat dari Winter Fantasy. Tiba tiba, kring… kring…. kring…. HP Anni berbunyi. Ternyata dari rumah sakit. “Halo? Ada apa, ya, Dokter Michael?” , “Saya minta adik sekeluarga¬† segera ke rumah sakit. Karena, Anna kritis lagi!” ,“Baik Dokter,” Klik! Setelah dimatikan, Anni segera memberitahu Mama dan Papa, lalu ke rumah sakit.

Di rumah sakit, Papa mondar-mandir kesana-kesini. Mama juga cemas. Begitu pula dengan Anni. Lalu, Dokter Michael keluar dari kamar. “Kondisi Anna masih sangat kritis sekali. Jadi, umurnya hanya dua atau tiga hari lagi,” jelas Dokter Michael. Anni sangat sedih. “Apa bisa kita lakukan kemoterapi saja?” tanya Papa. “Tidak bisa, Pak! Kondisi Anna sudah sangat kritis. Jadi, kalau kita melakukan kemoterapi, Anna akan semakin terancam meninggal,” tolak Dokter Michael. Lalu, mereka pulang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s