Murid Baru (Annissa’s Story 3)

Di kelas, Annissa sedang melihat Miss Dennie sedang bersama anak perempuan. Lalu, Miss Dennie bersama anak itu pun keluar dari kantor guru dan menuju kelas Annissa. “Hai, nama saya Jennifer Hannah Grey. Panggil saja Jenny. Saya lahir di Belanda, 14 Januari 1999. Saya juga berprofesi sebagai model,” kata anak yang bernama Jenny itu. “Jenny, kamu duduk di dekat Sabrina, ya!” kata Miss Dennie. Lalu, Jenny berjalan menuju bangku-nya dengan anggun layaknya ada di atas panggung. Annissa menjadi panas melihat kecentilannya.

Saat istirahat, mereka pesan mi goreng dua. “Aku soto ayam aja!” kata Nissa. Lalu, mereka cari tempat duduk. Lalu, setelah dapat tempat duduk, ada Jenny. “Euuhh! Kalian lagi, Anak Kampungan! Minggir sana!” usir Jenny. Muka Anni merah padam. “Heh! Seenaknya saja ngusir kami! Emang, ini kantin kamu? Hah?!!! Jawab, dong! Jangan bilang kalau kamu kehabisan kata kata untuk melawanku!” seru Anni. “Memang bukan, sih,” kata Jenny pendek. “Kalau bukan, kamu sekarang pergi, dong! Ayo, pergi!” Nissa ikut ikutan. Mereka mendorong Jenny sampai ke luar kantin.

Di kelas, Annissa tertawa tawa mengingat kejadian tadi. “Hahaha! Bilang kita kampungan, ternyata dia sendiri yang kampungan!” kata Nissa santai ketika melihat Jenny menangis. “Kalian kok, jahat sekali sih, sama Jenny?” sahut salah satu anak. “Diam kamu! Nggak usah ikut campur!!” seru Anni. Dia memang dikenal sebagai anak paling suka melawan di kelas. Anak itu terdiam, membisu. “Pokoknya, kalian harus minta maaf pada Jenny!!” tegas Keisha. “Keisha! Jangan mentang mentang ketua kelas kamu bisa mengatur aku! Awas kalau kamu lapor!” ancam Anni. Keisha terdiam. “Sudah, Ann!! Kita pergi saja! Yuk, ke taman bunga! Sekalian, kita jalan jalan disana!” ajak Nissa.

Pulang sekolah, Annissa sedang duduk di teras. Lalu, Jenny datang. “Mau apa lagi? Belum puas, kamu kuperlakukan seperti tadi? HAH?!!” tanya Nissa. Jenny makin marah. “Kalian itu…… benar benar menjengkelkan! Huh!” Hampir saja Jenny mendorong Annissa, mereka sudah mendorongnya balik. “Mau apa, sih, kamu sekolah disini? Mau merusak? Mau mengejek? Mau segalanya? Nggak bisa disini! Cari sekolah lain yang bisa menerima sikapmu itu!” kata Anni. Jenny menangis. Lalu Keisha datang. “Keisha…. tolong aku…..” Jenny meminta pertolongan. “Dasar dramatis!!!!” seru Annissa. “Anni, Nissa, kalian kok malah begitu, sih?” tanya Keisha. “Sudah, Nissa! Ayo kita pergi!” ajak Anni.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s