Pertengkaran (Annissa’s Story 2)

Besoknya, Anni dan Nissa sedang berbicara. “Anni, kita kan sudah lama berteman. Aku mau menamakan persahabatan kita menjadi Annissa. Gabungan dari nama Anni dan Nissa,” kata Nissa langsung. Anni terdiam. “Aku setuju, Niss! Usulmu bagus!!” kata Anni dan memeluk Nissa. Andai saja, Inna masih hidup, pikirnya. Inna adalah adik Anni.

Di kantin, mereka segera memesan terlebih dahulu. Kalau terlambat, wah bisa kehabisan mi goreng kesukaan Annissa, nih! “Mbok Rah, pesan mi goreng dua, ya!” pesan Anni. “Ini mi gorengnya,” kata Mbok Rah sambil menyerahkan mi goreng itu ke Nissa. “Terima kasih, Mbok!” kata Nissa. Anni jadi geram. “Mbok Rah, mi goreng satu!!!” seru Anni. “Maaf, Non, mi goreng nya habis. Tinggal satu, yang tadi,” kata Mbok Rah. Anni makin geram. Lalu dia duduk di depan Nissa sambil menatapnya dengan tajam. “Kamu kok, duduk disitu? Duduk di sebelah aku aja!” kata Nissa. “Sudah, jangan sok baik! Aku kan, yang pesan mi nya duluan! Kenapa kamu yang menerima mi itu, sih? Alah, sudah deh! Tidak usah alasan! Aku benci kamu!!!” teriak Anni.

Di kelas, mereka masih bermusuhan. “Sara, aku tukeran bangku, ya!” kata Anni. “Kenapa? Ya sudah,” kata Sara mengalah. Dasar anak sok baik! Baru sekolah disini aja, sudah membuat aku kesal!! batin Anni. Lalu, Nissa menuju bangku Anni. “Anni, kenapa kamu pindah bangku? Kamu sudah bosan, ya, berteman denganku?” tanya Nissa. “Iya, Niss! Aku memang sudah muak dengan perlakuanmu yang sok baik dan manja itu! Sudah, jangan temui aku lagi!!” kata Anni. Nissa mengangis. “Apa?! Mau mengadu ke Keisha? Silahkan!! Aku tidak takut dengan Keisha! Mau nangis? Yang keras sekalian!! Biar satu kelas dengar tangisanmu yang membuat kuping kita berdering!!” kata Anni tajam. Lalu, dia pergi ke toilet. Nissa mengejarnya.

“Anni!!” teriak Nissa. Dia terus mengejar Anni. Hingga tangannya bisa meraih tangan Anni. “Apaan sih, pengang pegang?! Lepasin! LEPASIN!!!!” seru Anni dan berhasil melepaskan tangannya dari tangan Nissa. “Kamu kenapa marah sama aku, sih? Apa salahku?!!” seru Nissa akhirnya. “Karena kamu sudah membuat aku kecewa! Kamu sudah membuat aku marah!!” jawab Anni tak kalah seram. “Anni! Aku murid baru disini! Masa……” kata kata Nissa dipotong oleh Anni. “Jangan mentang mentang kamu anak baru aku bisa menerima sifatmu yang menjengkelkan itu!!” potong Anni. Lalu, Nissa menangis. “Huh! Buang buang waktu saja disini bersama kamu!” kata Anni sambil pergi. Nissa masih menangis.

Di rumah, Anni segera main laptop untuk menghapus rasa kesal nya pada Nissa. Kring… kring….. kring! HP Anni berbunyi. Ternyata dari Nissa! “Ngapain nih anak masih SMS aku!” cetus Anni kesal. Lalu, dia menghapus SMS itu. “Anni! Anna! Ayo makan!!” teriak Umi dari bawah. Ya, Anna adalah Kakak Anni. Lalu, Anni makan siang dengan cemberut. “Anni, kok, kamu kelihatan kesal begitu, sih? Kenapa?” tanya Abi. “Anni baru bertengkar, Bi,” jawab Anni. “Anni bertengkar sama Nissa, murid baru di sekolah. Padahal, kita sudah membuat nama persahabatan kita, yaitu Annissa. Gabungan dari nama Anni dan Nissa. Lah, tadi, Anni pesan mi goreng dua. Terus dikasihnya ke Nissa. Waktu Anni pesan lagi ternyata sudah habis,” jelas Anni. “Oh, kalau begitu, nanti ikut Kak Anna ke mall aja bareng Umi!!” ajak Kak Anna. “MAUUUUU!!” kata Anni. Umi mengacungkan jempol.

Malamnya, mereka ke mall. “Umi, Anni mau bei perlengkapan sekolah boleh, kan?” pinta Anni. “Boleh. Beli apa saja boleh, asalkan kamu butuh barang itu,” pesan Umi. Anni pun membeli bolpoin gel, pensil ber-glitter,  buku tulis satu pack, tip-x, dan penghapus. Lalu, mereka membayar di kasir. “Semuanya dua ratus lima puluh ribu,” kata kasir yang bernama Stepha (Anni lihat dari name tag nya). Lalu, Umi menyerahkan amplop putih. Lalu, mereka pulang.

Di sekolah, Anni berencana untuk minta maaf pada Nissa. “Niss, aku minta maaf, ya,” kata Anni. “Buat apa?” kata Nissa cuek. “Huh, kalau kamu gitu, mendingan aku tadi nggak usah minta maaf sama kamu! Ya sudah, kalau kamu memang nggak mau main sama aku, oke, it’s fine, Enemy!” kata Anni. Nissa mencegah Anni. “Oke, aku juga minta maaf, Ann! Aku salah,” sahut Nissa. Lalu, mereka berpelukan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s