Dompet Pink

Lila adalah anak yang kaya raya tapi sombong dan TuMer (tukang pamer). Setiap dia punya barang baru, Lila pasti pamer. Dikit dikit, “Eh, aku punya barang baru, lho!” atau “Ini baru, lho! Mahal lagi! Aku beli di Amerika, lho!”. Yah, bagaimana lagi?

Suatu hari, Lila mendapat dompet imut berwarna pink. Diam diam, Reva iri dengan dompet imut Lila. “Teman teman, aku punya dompet baru, lho! Lucu kan, warnanya? Tuh, ada liontin Hello Kitty nya juga!” pamer Lila. “Lucu banget, Lil! Beli di mana?” tanya Reva. “Di Singapura, dong! Mahal, lho! Kamu nggak mungkin bisa beli!” ejek Lila. Reva mulai kesal. “Huh, dompet seperti itu mudah sekali rusak! Aku akan beli dompet yang awet dan lebih bagus dari itu!” sahut Reva. Lihat saja nanti, Lila! Dompetmu tidak akan sebagus dompetku nanti! seru Reva dalam hati.

Saat perjalanan pulang, Reva terlihat lesu. “Aduh, bagaimana supaya aku dapat membeli dompet sepert itu?” gumam Reva. Lalu, mobil mewah Lila berhenti tepat di samping Reva. “Hey, Anak Miskin! Mau kemana? Kok, tidak dijemput motor butut mu itu?” ejek Lila. “Lila, jaga sikap kamu, ya! Jangan mentang mentang aku miskin kamu bisa meremehkanku! Lihat saja, ya! Kalau aku sudah dapat dompet lebih bagus darimu, kau pasti akan iri!” sahut Reva. “Lihat saja!” Lalu, mobil mewah itu melaju dengan cepat. “Dasar Jelek!” ejek Reva.

Di rumah ia mulai berpikir. “Bagaimana aku bisa dapat uang? Aku nggak mau merepotkan Papa dan Mama!” kata Reva. Setelah berpikir 15 menit, “Aha! Kalau dengan berjualan, bisa untung tidak ya? Ah, kucoba saja nanti!” sorak Reva. Dia segera menghampiri Fanya, teman rumahnya. “Fan, bisa tolong aku, nggak?” tanya Reva. “Tolong…. apa?” Fanya balik bertanya. “Aku kan, mau beli dompet yang mahal. Lah, terus aku belum dapat uang. Aku sudah dapat usul untuk jualan. Tapi jualan apa. Gituuuuuuuu!” jelas Reva. “Mmmm…… aku mau! Gimana kalau kita jualan…… es! Es jeruk dingin! Ah, itu usul yang cakep!” kata Fanya sok gaul. “Uh, sok gaul banget!” kata Reva. Lalu, mereka memetik buah jeruk di kebun buah Fanya.

Mereka jualan di lapangan sepak bola. “Ayoooo! Dibeli! Es jeruk segar! Murah murah! Seger seger!” teriak Fanya. Spontan, semua orang langsung menyerbu mereka. Setelah berjualan, mereka istirahat di bangku penonton. “Huh, capek! Tapi, lumayan! Eh, hasilnya berapa tuh, Rev?” kata Fanya. “Emm….. dua puluh ribu! Lumayan!” jawab Reva. Lalu, dia berpikir. “Ha?! Dua puluh ribu! Aduh, masih kurang!” seru Reva. Fanya menenangkan Reva. Mau tak mau, mereka pulang ke rumah.

Di rumah, Reva sempat memberi upah bagi Fanya. “Terima kasih, Reva!” kata Fanya dan pulang. Saat masuk, dia melihat Mamanya sedang menonton berita. “Ma, Reva pengin beli dompet baru! Reva sudah ada uang sepuluh ribu hasil jualan es. Tambahin, ya, Ma!” rengek Reva. ‘Kan, masih ada uang tabungan kamu? Pakai itu saja!” jawab Mama. “Oh, iya! Harganya, kan, cuma lima puluhan! Uang tabungan ku sisa… sembilan puluh ribu!” kata Reva dan segera mengambil uang tabungannya itu. Dan, pergi beli dompet di toko perhiasan dekat rumah Reva.

Saat di sekolah, Reva memamerkan dompet barunya yang berwana biru cerah dan ada liontin bunga bunga dan renda berwarna biru tua. Lila pun iri. “Hai, TuMer! Mana dompet lucu mu itu, hah?!” kata Reva. Lalu, setelah Reva melihat, dia tertawa. “Hahaha! Dompetmu sudah robek! Warna belakannya pun memudar! Hahaha!” Reva tertawa. Lila jadi malu. Makanya, jangan TuMer kayak Lila, ya! Entar, kena batunya, lho!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s