Pembalasan Untuk Lia

Melita lagi sebal dengan Lia, anak baru yang sombong dan centil. Yang membuat Melita sebal adalah ketika Lia membentak Melita atau teman temannya, menggangunya, berbuat tidak sopan, aaah! Melita sebal dengan Lia!

Saat itu, Melita bersama Nina dan Fifi sedang makan mie rebus dan jus apel segar di kantin. Tiba tiba, Lia menggebrak mejanya. “Ngapain kalian disini, hah?!” bentak Lia cepat. “I… ini kan, meja kita! Kenapa, Lia?” tanya Fifi berani. “Aku mau duduk disini! Minggir!” jawab Lia kasar. Fifi kehabisan kesabaran. ‘Heh, itu masih ada tempat duduk, kan?! Duduk aja susah!” seru Fifi. Akhirnya, Lia memutuskan untuk mencari bangku lain. “Gampang, kan, ngelawan Anak Sombong itu?” kata Fifi puas. Lalu, mereka masuk kelas karena sudah bel.

Di kelas, Melita, Fifi, dan Nina terlihat lesu. “Huh, kalau begini, sekolah nggak lagi seru. Ada Lia, semua hancur,” keluh Nina. “Emangnya, Lia itu gempa bumi apa, pake hancur segala?” canda Melita. “Bukan gitu! Maksudku, semuanya nggak lagi seru kalau ada Lia,” jelas Nina. Melita dan Fifi terdiam. ‘Aha! Gimana, kalau kita bikin rencana buat membalas semua perlakuannya. Dari situ, kita buat dia sadar. Gimana?” usul Melita. “Bagus! Cakep idenya!” kata Fifi sok gaul. “Gini idenya, psssstttt…… psssssttttt…… lalu psssssstttttttt…… Oke?” usul Melita. Mau tau? Rahasia, dong!

Besoknya, mereka mulai menjalankan aksi. Pas waktu istirahat, mereka membeli es teh kesukaan Lia dan melarutkan lima sendok makan garam kedalam teh itu. Melita dengan ragu mencobanya. “Hueekkss! Asin!” bisiknya. Lalu, Lia datang. “Mau apa kalian, hah?!” tanya Lia kasar. “Ini kami belikan es teh poci kesukaanmu!” kata Fifi. Nina menahan tawa. “Ngapain kamu ketawa, sih, Centil?” kata Lia. Nina menggeleng. Lalu, ketika mencoba, “Hueekkkkssss! Asin! Asiiin! Kalian mau meracuniku, ya?!” bentak Lia geram. Mereka tertawa. Lalu, Melita angkat bicara. “Nah, kamu sekarang bisa rasakan apa yang aku rasakan ketika kamu mengejek ku! Nggak enak, kan? Makanya, Lia, belajarlah untuk menghargai orang lain. Meskipun orang itu miskin, jelek, cacat, tapi kamu belum tentu sebaik mereka. Jadi, mulai sekarang, kamu harus belajar menghargai orang lain,” kata Melita panjang lebar. Lalu, Lia terdiam. “Oke, maafkan aku teman teman. Aku memang merasa diriku paling baik dan sempurna di kelas ini. Aku akan menjadi lebih baik. I’m promise,” kata Lia. Lalu, mereka menjadi sahabat selamanya. Selamanya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s