Boneka Baru

Rina lagi sebal dengan keluarganya. Belakangan ini, Mama dan Papa sering membeda bedakan Rina dengan adik kembarnya, Rani. Dibeda bedakan tentang kepintaran, tentang kerajinan, tentang…. ah! Pokoknya, Rina sebal!

Saat itu, Rani ulang tahun. Rani mendapat bayak kado dari Mama dan Papa. Rina makin keki saja dengan Rani. Dulu, kalau Rina ulang tahun, nggak pernah semeriah dengan kado sebanyak itu. Saat makan malam perayaan ulang tahun Rani, Rina hanya memandang nasi tumpeng dengan lesu. “Ma, aku peringkat satu, lho! Nanti beliin sepatu dan perlengkapan sekolah, ya?” kata Rani. “Aku juga mau!” teriak Rina semangat. “Maaf Rina, kamu tidak peringkat satu. Jadi, kamu hanya mama belikan peraut meja saja,” kata Papa. Rina cemberut. “Papa sama Mama jahat! Selalu saja Rani yang dimanja! Apa sih, bedanya aku sama anak manja ini?!” seru Rina. “Rina! Bilang apa kamu tadi?” tanya Mama. “Aku bilang ‘Anak Manja’! Eh, bukan anak manja. Tapi anak manja dan norak! Gitu saja bangga!” jawab Rina sambil lari menuju kamarnya.

Di kamar, Rina melempar semua bonekanya. Tiba tiba, pintu kamar Rina terbuka. “Kak Rina….” kata kata Rani terputus. “NGAPAIN KAMU KESINI, HAH?!” seru Rina kejam. Dia hampir saja melempar bonekanya ke arah Rani. “Emm….. maaf, ya, Kak. Gara gara aku, Kakak jadi dikucilkan oleh Mama dan Papa…..” kata Rani. “Jangan sok baik deh! Pergi! PERGI!!!!” teriak Rina. Rani segera pergi karena takut Kakaknya itu mengamuk. Huh, dasar anak manja! Sok baik! gerutu Rina dalam hati.

Paginya, Rina bangun dan mandi. Setelah mandi, ganti baju lengan panjang warna merah, celana legging hitam, pita warna hijau, dan bando warna jingga. Lalu, dia turun ke bawah. Dia melihat nasi putih, ayam panggang, ikan bakar, spageti, es krim coklat, jus jeruk, susu putih, dan air putih. Dia langsung menyerbu semua itu. Setelah makan, dia mengerjakan tugas komputer yang diberikan oleh Mr. John. “Kak, pinjam laptop dong!” kata Rani. “Nggak lihat apa? Lagi aku pakia, tau! Pakai laptop Mama sana!” seru Rina sambil terus memandang laptopnya. “Dipakai juga,” jawab Rani langsung. “Tunggu aja! Aku selesai dua jam lagi!” kata Rina bohong supaya adiknya itu pergi. Ternyata benar, Rani langsung pergi.

Sorenya, Rina di rumah sendirian. Mama, Papa, dan Rani sedang membeli keperluan. Jam 05.45, mereka datang. Rani datang dengan membawa sebuah boneka beruang besar warna pink. Tenyata, itu boneka yang selama ini diinginkan Rina. Tentu saja, Rina sangat amat marah. Mukanya sampai merah. “Halo, Kak,” sapa Rani. Tanpa menunggu apa apa, Rina mendorongnya sampai tangan Rani berdarah. “Rina! Apa apaan kamu?!” bentak Mama. “Mama yang apa apaan! Ngapain sih, belikan Rani boneka yang selama ini aku dambakan? Itu resikonya!” jawab Rina ketus.

Sekarang hari ulang tahun Rina. Anehnya, tidak ada yang memberi kado atau ucapan ‘selamat ulang tahun’ baginya. Huh, Rina makin keki dengan semua keluarganya. Saat dia ke ruang tamu, “SURPRISE!” teriak semuanya. Ada Nenek, Kakek, Rani, Mama, Papa, dan semua teman temannya. Ada kue tart coklat kesukaannya dan ada lilin angka ’14’. “Wah, trims semua! Raniiiii!” teriak Rina saat melihat saudara kembarnya itu. Dia memeluknya. “Maafin aku, ya, karena aku sudah banyak kesalahan padamu,” kata Rina. “Oke, Kak! Aku udh maafin kakak, kok!” kata Rani. Kado dari Mama dan Papa adalah baju. Kado dari Nenek dan Kakek adalah sepasang mukena yang bagus dan sepertinya mahal. Kado dari Rani adalah…., oh! Betapa terkejutnya Rina saat melihat dua boneka beruang besar warna pink dan putih. Yang warna pink, ada tulisannya ‘Rina’, kalau yang putih ada tulisannya ‘Rani’. Oh, betapa indahnya hari ini!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s