Aku Benci Ponsel (Julie’s Story 1)

Julie bertopang dagu. Dia sedang benci dengan sesuatu yang dimiliki semua orang. Dialah ponsel. Julie sangat sebal dengan ponsel. Apalagi yang mereknya Cross. Kak Julia, Mama, Papa, semua punya. Hanya Julie yang tidak punya. Masa, umurnya yang sudah 14 tahun belum boleh punya ponsel canggih seperti itu? Huh! Julie benar benar sebal.

Hari ini hari minggu. Julie, Kak Julia, dan Papa bersiap untuk olahraga di lapangan rumah. Rumah Julie sangat luas. Tiba tiba, KRIIIING! Ada bunyi dari ponsel Papa. Tanpa basa basi, Papa segera mengangkatnya. Satu menit kemudian, “Maaf Julie, Julia, Papa ada acara. Jam tujuh pagi. Ini sudah setengah tujuh. Papa ganti baju dulu, ya!” kata Papa. “Nggak apa apa, Pa! Aku juga ada janji mau makan bareng sama Katie,” kata Kak Julia. Wajah Julie memerah padam. “Apa apa, ponsel yang dituruti! Huh! Dasar ponsel memang membawa sial!” seru Julie dihadapan keduanya. Papa dan Kak Julia hanya bingung.

Di kamarnya, dia menggambar ponsel itu. Lalu, dia robek robek sampai jadi serpihan serpihan kecil. Saat turun ke bawah, Julie melihat Mama dan Kak Julia sedang asyik mengobrol. “Eh, mumpung ada kamu! Ambilkan popcorn rasa keju di atas meja makan, ya!” Lalu, Kak Julia menekan sesuatu di ponselnya, lalu ketawa ketawa sendiri. “Hey! Nyuruh nyuruh aku seenaknya! Ambil sendiri, dong! Jangan ngurusin ponsel doang! Mama juga! Kalau kalian udah besar, lakukan semua sendiri!” celoteh Julie marah besar sebesar besarnya. “Kamu kenapa, sih?” tanya Mama. Julie hanya mendengus kesal.

Saat makan malam, “Julie, Masih ingat Cassie nggak? Sepupu kamu itu,” kata Mama. “Masih. Kenapa?” tanya Julie ketus, tak memandang Mama yang asyik memandangnya. “Dia udah punya ponsel, lho! Dia minta Mama untuk ngabarin kamu tentang ponsel barunya. Mereknya Cross juga,” jawab Mama. BRAK!! Dia memandang Mama dengan tajam dan serius. “Pa, Ma, Julie mau ponsel!” teriaknya. Mama dan Papa bingung, Kak Julia juga. “Kok diam? Aku mau ponsel!” kata Julie tajam. Papa terdiam sejenak. “Tidak, Julie. Papa tidak mau kamu memiliki ponsel seperti Cassie,” jawab Papa pelan. Julie sangat sedih. Dia memandang benci ke arah Papa. Tak terasa air matanya terjatuh membasahi pipi Julie. Dia memecahkan gelas berisi air putih. “Papa jahat! Oke, kalau Papa nggak mau belikan aku ponsel, enggak apa apa. Tapi, aku minta semua permintaan aku dituruti sampai aku boleh beli ponsel! Pilih yang mana?!” sahut Julie. Akhirnya, Papa mengalah, dan membelikan Julie ponsel saat itu juga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s