Nina, si Peri Matahari

Nina masih tidur. Tugasnya sebagai Peri Matahari sungguh membosankan. “Huh! Malas, deh, kalau harus bangun pagi pagi!! Oh iya, Ratu kan, lagi pergi ke dusun Cream Fairies! Jadi, bebassss!” kata Nina. Ia bangun dengan malas. Padahal, ini sudah jam setengah lima. Ia harus memunculkan matahari tepat jam 04.30. “Lho? Seragamku kok, tidak ada?” Nina membongkar isi lemarinya. “Ini dia!” kata Nina lega. Ia mengambil tongkatnya yang berwarna kuning berbentuk matahari. Ia masih malas untuk memunculkan matahari. Sehingga, ia menunggu jam enam. “Huh? Matahari belum bermunculan? Ya sudah, pasti masih jam empat!” kata Vanya si Peri Strawberry. “AAA! Sudah jam enam!” teriak Nina. Ia segera memunculkan matahari. “APA? Jam segini matahar baru muncul?! Ini sudah jam enam! Aku bisa dimarahi Ratu..” Mata Catherine si Peri Peternakan merah hampir menangis. Semuanya tergopoh gopoh untuk pergi ke tempat kerja.

Semua Peri terlihat lesu. Apa lagi Catherine! Ia bahkan menangis. “Ini pasti ulah Nina!” gerutu Laura si Peri Air. Laura juga terlambat mengisi kolam ikan dengan air sehingga ada tiga ikan milik Ratu yang mati. Semua Peri menggerutu kesal. Huh, semua Peri jadi kesal sama aku! batin Nina. Besoknya, Nina masih malas bangun. Padahal, sudah jam 04.45! Nina melihat jam. “Lagi lagi, tugasku ada lagi!” gerutu Nina. Ia segera mandi. “Malas, ah munculin matahari! Mending tidur lagi,” kata Nina sambil membuka selimut kuning miliknya. Jam lima pagi, Nina baru bangun. Ia segera memunculkan matahari. “Ha?! Jam lima pagi?! Apa aku bermimpi?” seru Vanya. Ia benar benar kaget.

Saat Ratu Peri pulang, semuanya memberikan hasil kerja mereka. “Vanya, kenapa strawberry yang kamu petik hanya sedikit?” tanya Ratu Peri. “Mmm, ini karena Nina sering lambat memunculkan matahari! Saya kira masih malam, ternyata sudah siang sekali,” jawab Vanya. “Laura, kenapa ikan ikan ku mati?” tanya Ratu Peri. “Karena Nina sering terlambat memunculkan matahari, akhirnya, ya saya kira masih sangat pagi,” jawab Laura. “Nina, lihatlah ulahmu! Kamu membuat semua Peri terlambat sehingga besar resikonya,” kata Ratu Peri. “Maafkan Nina Ratu! Nina tidak ingin menjadi Peri Matahari,” kata Nina. Ratu Peri berfikir sebentar. “Ya sudah, kamu akan saya ubah pekerjaanmu,” ucap Ratu Peri. “Benarkah?” tanya Nina senang. “Iya. Kamu saya angkat sebagai Peri Pengurus Ladang,” kata Ratu Peri. “Tapi, tapi kan, saya paling malas untuk mengurusi ladang Ratu!” keluh Nina. Ratu menggeleng. Ckckck… Nina, Nina!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s