Rahasia Dinda

Dinda Adelia Putri namanya. Anak ini berumur sepuluh tahun. Ia bersekolah di Girly School. Dinda ini anaknya pendiam. Seringkali nafasnya sesak. Ketika ditanya, ia selalu menjawab ia pilek.

“Bu, saya mau tanya, kalau nafasnya sesak, itu karena pilek, ya?” tanya Yumiko, anak dari Jepang. “Bisa saja karena penyakit asma,” jawab Bu Hani, guru IPA. “Apa itu asma, Bu?” tanya Yumiko. “Asma adalah penyakit sesak napas yang biasa dialami oleh orang yang sering menghirup udara kotor. Bisa dari asap knalpot, asap pembakaran, asap pabrik, dan seterusnya,” jelas Bu Han panjang pendek. Tiba tiba, penyakit Dinda kambuh lagi. “Yum….. antar… aku ke kamar mandi, dong…” kata Dinda yang langsung lari terbirit birit ke kamar mandi. Yumiko menyusulnya. Dinda mengeluarkan inhaler. “Inhaler? Kamu bawa inhaler? Buat apa?” tanya Yumiko. “Untuk asma…,” jawab Dinda yang langsung menyemprotkan obat itu ke mulutnya. “ASMA?!” seru Yumiko yang saking kerasnya sampai terdengar ke kelas. “Ada apa, Yum?” tanya Aldi, teman sekelas Dinda. “Oh, tidak..,”

Sekarang ulang tahun Katie. Dinda datang dengan gaun pink indah, dan memakai sepatu hak tinggi ungu. “Hai, Din!” sapa Katie, teman sekelasnya. “Hai, Kat..” balas Dinda. “Aku enggak pernah tau, lho, kalau kamu kena asma,” sesal Katie. “Oh, tidak papa, Ka…tie…” Asma Dinda kambuh dan segera mengambil inhaler. Ternyata ketinggalan, dan Dinda pingsan. “DINDA!” teriak Katie. Katie menelpon ambulance. Kemudian, Katie membawa ke dalam ambulance.

“Mbak, Dinda Adelia Putri kamar nomor berapa, ya?” tanya Yumiko saat di rumah sakit. Resepsionis mengecek di komputer. “Di kamar 389 di lantai dua,” jawab resepsionis. Yumiko langsung naik ke lift. Kemudian, ditelpon Katie.

Halo…, Yumiko…..”
“Iya, ada apa Kat?”
“Dinda pindah kamar. Ke kamar 350,”“Iya, aku kesana!”
Klik! Telepon dimatikan

Yumiko sampai di kamar 350. Itu kamar jenazah. Terlihat teman teman, ayah dan ibu Dinda sedang menangis, serta guru guru, juga Katie. “Kenapa Dinda pindah kesini?” tanya Yumiko. Katie langsung memeluk Yumiko. “Yumiko…, Dinda telah tiada! TIADA!” kata Katie. “Jangan bercanda! Dia sahabatku! SAHABATKU!” kata Yumiko. “Kamu tak percaya, dia ada di kamar ini! Kamar jenazah!” balas Katie. Yumiko menangis memeluk erat Dinda, sahabatnya. “Good bye, Dinda! Aku tak akan melupakanmu,” kata Yumiko. “Good bye, my friendship, Dinda Adelia Putri….,” gumam Yumiko.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s