Oh, Ternyata….

Kelas Gita kedatangan teman baru. Namanya Shafira Khairunnisa atau Nisa. Tapi, anak itu aneh. Aneh sekali. Setiap dipanggil, Nisa tidak menjawab. Gita dan teman temannya kan jadi sebal.

“Eh, Nis, ayo main!” ajak Sinta. Nisa tak menjawab. Nisa segera ke kantin dengan membawa secarik kertas. “Tuh, Nisa tidak menjawab lagi..,” keluh Gita. “Tapi, kenapa dia membawa secarik kertas? Aneh!” komentar Andine. “Ya sudah, dia memang menyebalkan!” kata Gita.

Sudah dua minggu ini, Gita dan kawan kawan dicuekin oleh Nisa. Gita semakin sebal dengan Nisa. “Huh! Anak baru udah sombong sama senior! Hu-uh! Akan kubuat kau semakin tidak betah disini!” gerutu Gita sebal sekali. Sinta yang duduk disebelah Gita, sepertinya ada akal. “Eh, Git, aku punya rencana untuk membuat Nisa diskors!” usul Sinta. “Begini, sstttt… sstttt… sstttt…, lalu.. psssst…” bisik Sinta. Gita memetik jari. “Ide bagus!” seru Gita. Ia segera menulis di secarik kertas:

Hahaha…., kamu tuh, senior paling kejam!
Pantas saja kamu tidak kusukai! Kamu senior galak!
GALAK SEGALAK- GALAKNYA!

Gita menyelipkan kertas itu di tasnya. “Kamu adalah tukang pemberi ide yang bagus! Pasti Nisa diskors! Hahaha!” kata Gita. “Iya dong! Sinta memang hebat!” puji Sinta pada diri sendiri. Gita tertawa. Saat ia hendak mengambil buku IPA, dia diam diam mengeluarkan kertas itu dan akting sedih. Ia pura pura menangis ketika selesai membacanya. “Kenapa kamu, Gita?” tanya Bu Dona, guru belajaran IPA. “Bu… huhuhu…. Nisa mengirim surat ini untuk saya… huhuhu!” kata Gita akting. Bu Dona menulis di secarik kertas untuk Nisa, supaya datang bersama Gita ke kantor Bu Hikmah, kepala sekolah.

“Bu, Nisa tidak sepantasnya untuk mendapat ejekan ataupun dijauhi. Dia punya kekurangan, Bu,” kata Bu Dona. “Bu, Nisa kenapa?” tanya Gita. “Gita, Nisa itu anak tunawicara dan tunarungu. Dia memang tidak bisa merespon ataupun menjawab panggilan kamu,” jelas Bu Hikmah. “HA? NISA ANAK TUNARUNGU?!” kata Gita kaget. “Iya, Gita,” jawab Bu Dona. Ia pun minta maaf kepada Nisa. Nisa segera menulis pada kertasnya. “Apa maksudmu, Gita?” tanya Nisa di kertas. Gita mengambil kertas itu. “Aku…., yang ingin kamu diskors! Karena kamu tidak merespon semua panggilanmu,” jawab Gita di kertas. Gita menyodorkan tangannya, dan Nisa menyambutnya dengan senang hati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s