Hantu Berjepit Ungu

“Shinta! Bangun, Shin!” kata Meyda setegah mengantuk. “Apaan, sih, Mey? Ganggu tau, enggak!” balas Shinta sambil membalikkan badannya. “Iih! Anak ini pemalas banget, sih? Shin, temenin aku ke kamar mandi! Aku mau buang air, nih!” kata Meyda. “Kebiasaan, kamu!” kata Shinta sambil mengambil senter hijau dan memakai kerudung.

Setelah buang air, Meyda dan Shinta sempat mencari kayu bakar untuk besok malam. Kan, nginapnya lima hari! Kresek, kresek! Bunyi semak semak membuat Meyda merinding. “Kayaknya, ada yang ngikutin kita, deh, Shin,” kata Meyda. “Sepertinya, begitu…” Mereka menengok ke belakang. “Nggak ada orang!” kata Meyda. Lalu membalikan badan dan…, “KUNTILANAKK!!!” teriak mereka saat melihat sosok berambut panjang, dan berbaju putih. “Ha… hai…. kunti…lanak! Je… jepitan… mu… bagus… sekali. Boleh… bolehkan, aku….. mengam…..bilnya……?” ucap Shinta sambil mengambil jepitan rambut hantu itu yang berwarna ungu. “LARIIII!” jerit Shinta.

“Hosh! Hosh! Tadi.. tadi serem banget!” Nafas Meyda terengah engah karena capek lari. “Iya, kok, gak… disediakan toilet yang deket, sih?” gerutu Shinta kesal dan merinding. Tiba tiba, ada bayangan yang mendekati tenda mereka. “Itu pasti kuntilanak tadi…” kata Shinta sambil berpelukan dengan Meyda. Bayangan itu mendekat, mendekat…. dan.. “Hey, kalian belum tidur? Habis ngapain?” tanya seseorang. Itu Amanda! “Oh, Manda! Mengagetkan aku saja!” gerutu Shinta kesal. “Hmmm…, ya udah, tidur sana!” perintah Amanda.

“Ehh, tadi malam, aku sama Shinta diikuti kuntilanak, lho!” cerita Meyda. “Oh iya? Dimana?” kata Lolly penasaran. “Di hutan. Waktu itu, aku sama Shinta lagi buang air, terus ada kuntilanak di belakang aku, iya enggak, Shin?” lanjut Meyda. “Iya. Anehnya, kuntilanak itu pakai jepitan ungu muda, bentuknya hati. Aneh, kan?” jawab Shinta. “Iya, aneh! Ya, aneh sekali!” semua anak berkomentar. “Itu seperti jepitan favorit Lula. Warna ungu!” lanjut Shinta. “Lula? Aku?” kata Lula tiba tiba. “Lula! Kamu, ya, yang memerankan kuntilanak semalam?” tanya Meyda kesal. “Emm, enggak kok! Jangan tanya tanya deh!” seru Lula sambil meninggalkan Meyda dan kawan kawan.

Meyda masih tidur. “Hoaaaamh,” Meyda menguap. “Kok gelap?” Meyda heran. Tiba tiba, “HAPPY BIRTHDAY, MEYDA!” teriak anak anak. Olala, ternyata ini tenda guru guru! “Terima kasih, Kawan Kawan!” kata Meyda terharu. “Ini,” kata Lula sambil menyerahkan kamera pada Meyda. “Itu semua kejadianmu saat ke toilet! Sempat saja kami rekam!” lanjut Lula. “Jadi, kalian….” kata Meyda agak marah. “Maafkan kami. Lula yang menjadi kuntilanak itu. Maafkan kami, ya!” kata Lolly. Meyda marah. Kemudian tertawa. “Putar video itu,” perintah Arga yang merekam. Meyda memutar video itu sampai lima kali. “Kalian mengerjai aku dengan pemeran kuntilanak berapa?” tanya Meyda. “Cuma satu,” jawab Lula. “Lalu, siapa ini?” tanya Meyda. Di layar kamera, terpampang Lula yang sedang menyamar menjadi kuntilanak. Lalu, ada sesosok makhluk berjubah putih, dengan rambut panjang menutupi muka. “Itu adalah,…, KUNTILANAK SUNGGUHAN!!!” teriak Lolly. “Tuh, penghuninya marah, kan?” kata Meyda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s