My Sister Liana

“Aaaah! Kalau ulang tahun kayak gini, sepi! Gak seru! Gimana, kalau ngerayain nya bareng Lisa?” gumam Liana. Memang, orang tua Liana dan Lisa sangat sibuk. Sehingga mereka sering keluar negeri. Tapi, karena mereka akur, selalu setiap mereka pulang, tak ada kejadian apa apa.

Pak Hary, satpam nya, membukakan pintu gerbang untuk Lisa. “Dari mana saja, Non Lisa?” tanya Pak Hary. “Dari mall, Pak! Habis beli barang barang dan hadiahnya Kak Liana,” jawab Lisa. Lisa kembali mengecek semuanya. “Aku tadi beli tas, bantal leher, pianika, laptop, kamera, dan laptop lengkap dengan TV dan kamera dua arah untuk Kak Liana, ” gumam Lisa. Lisa segera ke Cafe Soft Drink. Disitu tempat pesta ulang tahun Liana.

Lisa segera mengajak Liana ke restoran. “Selamat ulang tahun, Kak Liana!” seru mereka berbarengan. “Trims, semuanya! Kalian baiiik banget sama Kakak! Makasih juga, Lisa. Kamu adik Kakak yang paliiiiing baik sedunia!” kata Liana. Sekarang, waktunya buka kado. “Woww…….” kata Liana takjub. Ia sangat terkejut melihat hadiah laptop dengan TV dan kamera dua arahnya yang sudah dia inginkan dari dulu. “Makasih, Lisa! Kamu benar benar adik yang baiiiikk sedunia-akhirat!” ucap Liana. Pesta sudah selesai. Lisa terlelap dibawah selimut kesayangannya.

Besoknya, ada kabar buruk dari Tante Rani dan Om Gilly. Liana pingsan karena tertabrak motor. “Astaghfirullah hal’adzim!!!!” seru Lisa. “Kenapa, Lis?” tanya Kellie, sahabatnya yang sangat menyayangi Lisa dan Liana. “Kak Liana tertabrak motor!” kata Lisa sambil menangis. Sam, Kellie, Risma, dan sahabat sahabat Lisa yang lainnya ikut sedih. Sam dan Risma menangis menenangkan Lisa.
Sepanjang perjalanan, Sam, Risma, dan Kellie menangis. Sam menangis hingga roknya basah. Risma dan Kellie menangis hingga matanya sembap dan merah.

Tiba di rumah sakit, Sam, Risma, dan Kellie memeluk orang tuanya yang juga ikut. “Ma.., Kak Liana udah baikan?” tanya Sam sambil menangis. “Belum. Dia belum sadar. Kondisinya makin kritis,” jawab Bu Indah, ibu Sam. Kata Nek Hira, Mama tadi pingsan karena shock berat. “Lisa.., kalau.., Kakak udah., gak ada, jangan nakal nakal ya. Kamu…., harus jadi,…., kebanggaan Mama dan Papa…, ashadu allaa ilaahaillallah.., wa asyhaduanna muhammadar rasulullah……” Liana menghembuskan napas terakhirnya. Papa segera memegang denyut nadi Liana. “Inna lillahi wa innalillahi roji’un..,” kata Papa. Mama memeluk erat Liana. Saking shock nya, Mama sampai pingsan.

Jenazah Liana mulai dimandikan. Papa sibuk menghibur Mama yang sedang stress. Usai dimandikan, Sam dan Risma mengangis tiada hentinya. “Lis.., yang sabar, ya,..” kata Sam. Jenazah Liana mulai dikuburkan. “Selamat jalan, Kak Liana. Semoga, Allah menempatkan Kakak di tempat yang terbaik.,” bisik Lisa.

Besoknya, Mama dan Papa membawa anak yang sebaya dengan Liana. “Sayang, ini Janet. Saudara baru mu. Orang tuanya meninggal karena kecelakaan besar. Mama dan Papa ingin menjadi orang tua angkatnya,” kata Mama. Sekarang, Lisa sudah mulai merelakan Liana. Tapi, dihatinya, cuma ada Liana yang mengisi hati nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s