Cupcake Tania dan Davina

Davina duduk di bangku yang masih kosong. Tiba tiba, ia bertemu sahabat TK nya, Sisca. “Sisca! Kamu sekolah sini juga?” tanya Davina gembira. “Hey! Kamu siapa? Mau gabung? Gabung sama yang lain sana!” kata Sisca. “Sis, kamu kenal sama anak culun dan dekil ini?” tanya sahabatnya. “Iiiih! Aku nggak kenal dan nggak mau berurusan sama anak dekil ini!” jawab Sisca. Davina sangat sedih. Dulu, mereka selalu bersama. Sekarang, Davina malah dijutekin.

Davina duduk di depan murid perempuan. Anak perempuan itu terlihat jutek, dingin dan cuek. Ia mengambil buku yang seperti diary bergambar zodiak Aries. Davina melihat buku yang berwarna biru laut itu dengan seksama. Ketika anak itu melihat Davina, Davina menghadap depan. Anak itu mencolek pundak Davina. “Hai! Namamu siapa?” tanya anak itu. Davina memutar bola matanya yang berwarna ungu. “Aku Davina. Kamu siapa?” jawab Davina. “Aku Tania,” kata Tania. “Hello, my students! I am Miss Lavender. And this, Miss Fenna,” kata Miss yang bernama Miss Lavender. Tania dan Lily akhirnya duduk sebelahan.

Paginya, buku Matematika Tania hilang. “Dav, kamu mengambil buku Matematika ku, ya?” tanya Tania marah. “Enggak! Kamu kenapa jadi nuduh aku??” tukas Davina marah. Mereka saling menyalahkan. “Aku nggak nyangka kalau kamu bisa sejahat ini sama aku! Persahabatan kita putus!” kata Tania marah semarah marah nya. Davina hanya diam sambil menahan tangis.

Satu bulan, dua bulan, empat bulan sudah mereka saling bermusuhan. Tania belum tau dimana buku Matematika nya. Sehingga, Tania sering dimarahi Miss Lervia, guru Matematika. “Students, minta perhatian nya sebentar!” kata Miss Lavender. “Ini ada teman baru untuk kalian. Namanya Salsa. Ini saudaranya, Mitha,” kata Miss Fenna. “Tania!” panggil Miss Lavender. “I.., iya Miss. Ada apa?” tanya Tania gugup. “Buku Matematika mu ada di kantor guru. Nanti kamu ambil, ya!” jawab Miss Lavender. Sekarang, Tania duduk dengan Salsa dan Davina duduk dengan Mitha. “Kamu punya musuh ya?” tanya Mitha. “Iya.Tania, dia dulu sahabatku,” jawab Davina. “Aku juga punya musuh, Salsa, saudaraku,” kata Mitha.

Tania dan Salsa baru keluar dari kantin. Mereka membawa empat cupcake coklat di tangan mereka. Mitha dan Davina hanya cuek. “Davina!” panggil Tania. “Ngapain kamu kesini? Bukannya, kita udah nggak sahabatan lagi?” sindir Davina. “Aku minta maaf, ya. Aku udah nuduh yang enggak enggak sama kamu,” kata Tania. “Kami bawa ini untuk kalian,” lanjut Tania. Mereka berempat berpelukan seperti Teletubbies, film kesukaan Davina waktu masih balita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s