Pemungut Sampah dan Pedagang Apel

Ada tiga orang pedangang apel bernama Pak Rino, Pak Kardi, dan Pak Asip. Mereka sudah seperti kerabat. Mereka sangat kikir dan sombong. Ada juga pemungut sampah jalanan bernama Pak Usman. Ia bekerja di Pengolahan Sampah milik Pak Ferdy.

Ketika di tempat kerjanya, Pak Usman membawa karung berisi sampah. “Hanya tiga kilo. Ini upahmu,” kata Pak Ferdy sambil menyodorkan uang lima ribu rupiah. “Alhamdulillah, terima kasih, Pak!” kata Pak Usman. Pak Usman segera membeli nasi di warung dekat perusahaan Pak Ferdy.

Malamnya, Pak Usman tidur di depan toko Pak Rino. “Hey, Pak Usman! Bangun!” teriak Pak Rino. “Ada apa, Pak?” tanya Pak Usman kaget. “Jangan tidur disini! Ini kuberi uang!” kata Pak Rino sambil melempar uang sepuluh ribu rupiah. “Tidak, Pak. Terima kasih,” kata Pak Usman. “Terima saja, asalkan kau tidak balik kesini lagi!” bantak Pak Rino. Pak Usman pergi dengan sedih.

Paginya, ada peti kecil dibawah bantalnya. Ketika dibuka, ternyata isinya adalah emas, perak, pernak pernik, berlian, dan lain lain. “Ya Allah, apakah aku bermimpi?” kata Pak Usman tak percaya. Seketika itu juga, ia menjadi pedagang sapi, kambing, kerbau dan ayam. Semuanya sehat dan gemuk. Ketika Pak Usman sedang pergi, mereka bincang bincang sesuatu. “Sumpah, Pak! Aku iri dengan Pak Usman! Dulu, kita lebih kaya dibanding dia!” kata Pak Kardi. “Aku juga, Pak Rino, Pak Kardi. Aku sangat iri dengan kekayaan Pak Usman sekarang! Dulu, kita selalu bentak dia! Sekarang, tidak bisa lagi. Kan, harga dirinya sudah sangat tinggi,” kata Pak Asip. “Saya punya rencana untuk mendapatkan sebagian hartanya!” kata Pak Rino sinis. Paginya, mereka menyamar menjadi pengemis jalanan. “Pak, tolong kami, Pak! Kami belum makan selama tiga hari, Pak!” kata Pak Rino berbohong. “Apa mau kalian?” tanya Pak Usman. “Kami ingin sebagian harta bapak!” jawab Pak Kardi. “Pengemis macam apa kalian ini? Aku tahu siapa kalian. Kalian adalah tiga pedadang apel yang dulunya selalu membentak saya!” kata Pak Usman. “Bu.., bukan..,” kata Pak Asip. “Ini saya bagi tiga puluh lima gram emas! Gunakan sebaik mungkin!” kata Pak Usman.

Sejak saat itu, pedagang apel  yang dulu nya kikir dan sombong, sekarang menjadi rendah hati dan ramah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s