Rara dan Pensil Ajaib

Rara gemar menggambar. Ia selalu menggambar yang ia suka. Akan tetapi, ia tidak pernah mewarnai gambarnya. Ia termasuk anak miskin karena rumahnya di pinggir laut dan terbuat dari kayu.

Suatu hari, ia sedang duduk di pinggir pantai. Ia tampak sedang melamunkan sesuatu. “Andai saja, aku memiliki pensil gambar. Pasti, aku akan mewarnai dengan lebih baik lagi,” gumam Rara. Tiba tiba, muncul asap hitam yang perlahan lahan berubah menjadi seorang peri cantik. “Anak manis, keinginanmu akan kukabulkan. Aku akan memberi satu pensil gambar. Tapi, aku mohon. Jangan gunakan untuk mencelakai orang lain. Gunakan sebaik baiknya,” pesan orang itu. “Ba.., baik…,” jawab Rara. Ia mulai menggambar sebuah apel merah. Dan, apel itu muncul. “Wah, ternyata ini pensil ajaib!” sorak Rara sambil memakan apel itu.

“Rara, tolong gambarkan kompor gas. Kompor gas rumahku rusak. Aku tak sanggup membeli lagi,” kata tetangga Rara. Rara menggambar kompor dan kompor itu muncul. “Rara, tolong aku! Anak ku meminta boneka! Tolong gambarkan boneka.” kata orang lain. Dan, seterusnya.

Suatu hari, Kerajaan Fairestale mendengar tentang pensil ajaib itu. “Bawa anak bernama Rara itu kesini!” perintah Raja Pousdeone, raja di Kerajaan Fairestale. “Baik, Yang Mulia!” jawab para pengawal. Pengawal pengawal kerajaan pun mencari Rara. “Rara, ayo ikut kami! Raja Pousdeone dan Ratu Liverra sudah menunggu!” perintah pengawal. “Untuk apa?” tanya Rara. “Jangan banyak omong, kau! Ayo ikut kami!” bentak pengawal kerajaan.

“Yang Mulia, ini dia anak yang bernama Rara,” kata pengawal sambil menundukkan kepala. “Bagus, pengawal! Rara, mari kesini,” kata Ratu Liverra lembut. Rara pun mendekat. “Bagus, Rara! Aku minta tolong, gambarkan sebuah peti berisikan emas, perak, koin, permata, dan lainnya yang mahal!” perintah Raja. “Apa raja membutuhkan itu semua?” tanya Rara. “Cepat kabulkan!” bentak Raja. “Tidak! Aku tak mau mengabulkan permintaan Raja dan Ratu yang berlebihan!” bantah Rara sambil melarikan diri. “Pengawal! Kejar dia!” perintah Ratu Liverra. Rara berhasil ditangkap. Rara dipenjara di penjara bawah tanah. Bagaimana, ini? Mereka sungguh kejam! Mereka meyuruhku untuk menggambar hal hal yang tidak penting! pikir Rara. “Aha! Aku gambar saja kunci penjara ini!” gumam Rara. Ia menggambar sebuah kunci. Akhirnya, ia berhasil keluar dari penjara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s