Menyelamatkan Mitha

“Nat, gawat, Nat! Gawat!”, seru Shandy.
“Iya, iya! Gawat kenapa?”, tanya Natalie.
“Anu.., si…, si…., Mitha hilang!”, jawab Shandy.
“Hilang?! Kenapa bisa hilang?! Siapa yang buat Mitha hilang?!”, tanya Natalie, si ketua kelas.
“Nggak tau. Tadi, waktu Mitha sedang mengembalikan buku, aku lihat ada anak kecil menyeret dia pergi! Mirip dengan Stevanie!”, jawab Shandy.

“Ken, Fenna, Sessy, sini!”, panggil Natalie.
“Ada apa, Lily?”, tanya Sessy.

Di sekolah, Natalie lebih sering dipanggil Lily. “Aku akan siapkan rencana! Pastinya, untuk menyelamatkan Mitha!”, jawab Natalie.
Saat di kantin, mereka berbincang bincang sesuatu..

“Aku akan siapkan ponsel dengan teknologi tinggi, yang bisa apa aja! Terus, kotak P3K, gunting, senter, kunci pintu, kartu internet,..”, kata kata Natalie dipotong oleh Sessy.
“Untuk apa kartu internet?”, tanya Sessy.
“Ya, cari informasi”, jelas Natalie.
“Ly, aku sudah dapat alamatnya!”, seru Stessie, wakil ketua kelas.
“Alamat apa, Stess?”, tanya Natalie bingung.
“Alamat gedung dimana Mitha di sekap!”, jawab Stessie.

“Mom, ada ponsel, kotak obat, gunting, senter, kunci pintu cadangan, kartu internet, dan Mom masak apa siang ini?”, tanya Natalie kepada mamanya.
“Sup ayam, kari ayam, ayam goreng, daging goreng, dan kentang goreng. Mau buat apa?”, kata Mom. “Rahasia! Mom nggak perlu tau!”, jawab Natalie.
“Sudah semuanya?!”, tanya Natalie. “Sudah!”, jawab Fenna, Ken, Sessy, dan Stessie serempak.
“Masuk!” perintah Natalie. Sessy dan Ken merinding habis-habisan. Gedung lama itu memang sudah bertahun tahun tak ditempati.
“Aku takut, Nat! Gelap. Hiih! Ini nyata nggak, sih?”, kata Sessy.
“Jangan protes, kamu! Mau Mitha ketemu nggak?”, tanya Stessie.
“Iya, deh”, jawab Sessy.
“Heh, diam! Lagian, sahabat kamu itu nggak akan jemput kamu!”, teriak seseorang. “Pasti, Stevanie!” balas Mitha.
“Hei, ada oli! Hati hati!”, kata Ken. Mereka dengan mudah melewati oli.
“Stop! Ada tali! Loncat!”, seru Fenna.

Mereka melewati rintangan lagi. Yaitu, menaiki tangga yang memiliki anak tangga seratus sembilan puluh.
“Akhirnya, sampai juga yang ke sembilan….,, pu..,, luh….,” keluh mereka semua.
“Buh! Mereka tidak akan bisa naik tangga yang punya anak tangga seratus lebih!,” ledek Stevanie.
“Siapa blang tidak bisa?!”, seru Natalie tiba tiba. “Ka.. Kalian?! Mana mungkin?”, tanya Stevanie.
“Ternyata kamu, Stevanie! Mau apa kamu menculik Mitha!?”, tanya Sessy. “Aku tidak akan membongkarnya!”, bantah Stevanie.

Mereka pun melakukan permainan ‘tatap matanya paling lama dua menit’.
“Aku takut!”, seru Stevanie. “Ceritakan!”.
“Baiklah. Aku menculiknya karena Mitha tidak mau menjadi temanku. Ia beralasan karena aku egois”, ungkap Stevanie.
“Kami akan laporkan kamu ke Pak Bima!” Pak bima adalah Kepala Sekolah Natalie.
Mitha bahagia karena telah bebas dari sekapan Stevanie.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s