Saudara Baru

Nanda merasa senang menjadi anak tunggal. Ia tidak menginginkan saudara ataupun teman di rumah. Biasanya, aktivitasnya di rumah hanyalah membaca komik. Mamanya merasa kasihan dengan Nanda karena kesepian.

Suatu hari, Mama mengadopsi anak yatim piatu berumur 11 tahun. Nanda merasa heran dengan sikap Mamanya. “Nanda, ini Jenni. Ini saudara angkatmu. Anggap seperti kakakmu, ya” ucap Mama. Nanda memang masih berusia 9 tahun. “Aku tidak mau saudara-an sama dia! Aku senang jadi anak tunggal! Kalau dulu, ada Kak Mitha yang sudah meninggal. Dan Kak Mitha yang selalu disayang! Enak jadi anak tunggal!” bantah Nanda. “Kenapa kamu selalu membantah kalau Mama selalu usulkan untuk mengadopsi anak?” tanya Mama. “Udah, Tante. Eh, Ma! Nggak papa kok!” bela Jenni. “Kamu memang sudah dewasa! Mama bangga sama kamu!” puji Mama. “Aaargh! Jenni! Awas kamu!!” bentak Nanda

“Ini kamarku. Tapi, aku mau kamu tidur di kasur bawah!” kata Nanda sombong. “Wah! Kamarmu bagus sekali!” puji Jenni. “Sayang! Ayo makan!” teriak Mama dari bawah. “Jenni, turun!” perintah Nanda. “Setelah itu, pegangkan tanganku layaknya putri dan pembantunya,” lanjut Nanda. Jenni turun dengan menggandeng tangan Nanda. Setelah makan, Nanda segera mandi. “Kamu tunggu aku. Sabunya ada di mesin cuci dan samponya di meja,” jelas Nanda.

“Jam tangan siapa itu?” tanya Nanda seraya merebut jam tangan hadiah untuk Papa. “Nanda! Kembalikan!” bentak Jenni. “Kembalikan, ya? Tidak akan! Aku tidak akan mengembalikannya padamu!” bantah Nanda. “Itu aku beli pakai uang tabunganku! Tabunganku sekarang sudah kosong! Jangan sia siakan uangku!” kata Jenni sambil mengangis. “Menangis saja tidak cukup apalagi memohon! Aku sudah tidak dianggap lagi oleh orang tuaku sejak kamu ada!” kata Nanda sambil menekankan jari telunjuknya pada Jenni. “Ada apa ini?” Tiba tiba, Mama dan Papa datang. “Apa yang kamu lakukan pada Jenni?” tanya Papa. “Jenni! Jenni! Jenni! Bosan aku! Sekali tidak menyebutkan nama Jenni kenapa, sih? Dan kamu Jenni, kamu telah menyia nyiakan hidupku! Sisa sisa hidupku menderita!” bentak Nanda.

Besoknya, Nanda bosan keluar rumah apalagi keluar kamar. Tiba tiba..,, Bruk! Nanda pingsan. Mama segera membawa ke rumah sakit. “Ia sedang stress hari ini,” jelas Suster. “Nanda, maafkan aku. Aku sudah bikin hidupmu menderita!” ucap Jenni sambil menangis. “Maafkan aku juga, ya! Aku sudah banyak melakukan kesalahan padamu!” ucap Nanda juga. Mereka berpelukan. Berjanji tidak akan jahat sesama saudara. (:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s