Pencurian di Desa Kenanga

Hari itu, adalah hari yang membingungkan bagi warga di desa Kenanga. Kenapa? Karena, sudah lima minggu ini warga di desa Kenanga banyak yang kehilangan barang. “Huhuhu… ponsel kesayangan saya hilang, Pak Lurah! Apa yang harus saya lakukan?” isak Bu Lidya. “Begini saja, bu, saya akan mendirikan pos ronda. Saya akan menyuruh Tarmizi, Tejo, Farhan, dan Malik untuk rondanya,” jawab Pak Lurah.

Hari kedua, ada yang kehilangan barangnya. “Pak, emas, perak, perhiasan, dan uang saya dicuri, Pak!” lapor Bu Sari. “Siapa sebenarnya biang keladi dibalik masalah ini?” tanya Pak RT heran. “Saya tau ciri cirinya, Pak! Badannya besar, pakai jaket jeans, rambutnya panjang kriting, dan memakai topeng, Pak!” lapor Bu Synta. “Tarmizi, Malik, Tejo, Farhan, kenapa pencuri itu masih berani mencuri di desa ini? Kamu tidak melakukan ronda semalam?” tanya Pak Lurah. “Begini, Pak. Waktu saya mengejar pencuri itu, saya sempat dipukul oleh teman pencuri itu. Makanya dia lolos,” jelas Tarmizi.

“Tolooong.. tolooong!” Terdengar suara jeritan dari rumah Pak Zidane. “Kenapa, Pak Zidane?” tanya Pak Sarmin, tetangga Pak Zidane. “Uang saya yang berjumlah lima juta rupiah dicuri, Pak!” jelas Pak Zidane. “Pak, saya juga kehilangan barang. Barang saya berharga sekali. Yaitu, kalung permata saya. Itu dari almarhum bapak saya, Pak!” lapor Bu Cintia panik. “Besok, kita lapor polisi 24 jam. Untuk informasi, saya akan kabarkan,” tutur Pak Lurah.

“Halo, Pak polisi?!”, “Iya. Kenapa ya, Pak?” , “Pak, bisa bapak segera ke desa Kenanga? Nanti, informasinya akan saya beri tau di kantor saya”, “Bisa, pak. Ini tentang apa, ya?”, “Ini, Pak, sudah enam minggu desa saya terkena pencurian massal. Bapak bisa tolong?”, “Bisa, Pak. Saya akan segera kesana. Terima kasih atas informasinya,”    Klik! Telepon dimatikan!

Setelah berbincang bincang selama 45 menit, Pak Polisi segera menelpon teman temannya. “Terima kasih, Pak. Telah menolong desa kami” ucap Pak Lurah. “Sama sama,” jawab Pak Polisi. Mereka melakukan ronda selama 22 jam. “Hey, Pak Polisi sudah menangkap pencurinya! Jadi, pencuri itu tidak akan mengganggu desa ini lagi!” kata Bu Fifi girang. “Ayo ke kantor polisi!” ajak Bu Sari. Setelah sampai, Pak Polisi menceritakan kejadian sebenarnya. “Jadi, biang keladi pencurian itu namanya Pak Rozak,” jelas Pak Polisi. “Hah?! Pak Rozak yang terlilit hutang dari Pak Septian itu?!” tanya Bu Synta. “Iya. Dia mencuri karena perusahaan Pak Rozak bangkrut. Jadi, uang hasil yang ia curi sudah dibuat modal perusahaan dan bayar hutang,” lanjut Pak Polisi

“Arrrrggggghhhhh……… Dasar Pak Rozak!!!” gerutu orang desa, tentu saja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s