Pohon Manggis Ayah

Dibelakang rumah Manda, ada satu pohon manggis. Manggis nya berbuah lebat dan merah. Manggis manggis itu tidak bergetah dan sangat manis tanpa rasa asam. Manda sangat kecanduan memanjat pohon itu. O ya, pohon manggis itu ditanam Ayah sejak dua tahun yang lalu. Jadi, Ayah tidak akan segan segan menghukum Manda kalau buah manggis nya habis dimakan olehnya.

“Manda, Manda! Sini! Kak Nanda ada perlu, nih!” teriak Kak Nanda. Manda berjalan dengan malas. “Kamu panjat pohonnya, ya! Nanti, hasilnya bagi dua!” janji Kakaknya. Manda jadi berseri seri. “Siap, bossssss!” seru Manda. Belum 1 menit, Manda sudah berada di atas pohon. Manda mengambil buah manggis nya dengan cepat. “Nih! Mana upahku?” Manda menagih janji Kakaknya itu. “Nih, karena dapatnya cuma 10, aku bagi 5 buah!” jawab Kak Nanda. Manda segera mengupas kulit manggis itu. “Miaaaauuu…” Tiba tiba, kucing kesayangan Manda, si Manggis, datang. “Eh, kamu, Nggis! Aku bagi satu saja buat kamu, ya!” ucap Manda. Si Manggis pun melahap manggis yang diberikan Manda.

Si Manggis selalu dapat omelan dari Ayah. Tapi, Manda membela si Manggis terus. Waktu itu, ia menemukan si Manggis di pinggir trotoar jalanan. Manda kasihan dan iba melihatnya. “Aku pelihara saja. Ia kan, masih kecil” ucap Manda saat melihat kotak kardus. Manda pun membawa pulang si Manggis.

Ia pun melihat betapa lahapnya ia memakan manggis Manda waktu itu. “Aku memberi nama,………. Si Manggis!” seru Manda. Begitulah kisah si Manggis. Saat pulang, brukkkkk!! Manda jatuh saat memanjat pohon Ayah nya. Malamnya, datang Mak Ijah, tukang urut langganan Ayah dan Bunda, datang. “Manda, itu adalah pohon manggis Ayah yang terakhir kalinya. Nanti kalau Ayah dan Bunda sudah tidak ada, kamu rawat baik baik” saran Bunda. “Bunda jangan ngomong gitu dong!” kilah Manda dan Nanda. “Maaf”, Manda hanya cemberut. Melihat Si Manggis yang bertubuh gemuk. “Yah, Bunda, Manda janji, akan nge-rawat pohon itu baik baik. Tapi, jangan buang si Manggis, ya!” Manda berkata. Ayah dan Bunda mengangguk. Pohon manggis akan diteruskan oleh Manda, Nanda, dan si Manggis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s