0

Gara Gara HP

“Ayo lah bu. Kali ini yang terakhir deeeh,” rengek Thalia. Dia merengek meminta HP baru. Kali ini yang layar sentuh. “Tidak! Kamu baru saja ganti HP! Sudah, tidur sana!” perintah ibu. Thalia cemberut.

Di sekolah, anak anak membicarakan tentang HP barunya. “Aku beli merek Cross warna hitam,” kata Kiara. “Aku Mito yang warna merah, aku juga beli casing nya, lho, bla bla bla….” semua itu membuat Thalia bertambah iri saja. “Thalia, mana HP mu?” tanya Faye. “Emm… ketinggalan,” jawab Thalia pasrah. “Besok, bawa HP mu ke sekolah, aku ingin lihat, HP mu bagus apa tidak,” ujar Faye sombong.

“Bu, Thalia pulang!” teriak Thalia kesal. Dia membanting tasnya ke sofa empuk kesayangannya. “Non, ayo makan. Ada ayam panggang tuh, o iya, Tuan dan Nyonya lagi pergi ke luar kota. Ini, Bibi di tinggalin uang lima juta sama Nyonya,” Bi Sumi menyerahkan amplop putih. “Makasih, Bi,” kata Thalia. “Non, ada pesan satu lagi. Uang itu nggak boleh dibuat beli HP,” jelas Bi Sumi. “Huh, Ibu sama Ayah nyebelin deh,” sungut Thalia,

Kriiing! Kriiiing!

HP Thalia berbunyi. “Halo, Bu. Ada apa?” , “Thalia, Ibu mau pulang nih. Ibu bawakan kamu HP baru,” , “Serius Bu? Ibu nggak bercanda. Asyiiiiik!” Thalia menutup telponnya. Melonjak gembira. Sampai sampai, kepalanya terbentur tembok. “Duh!” kata Thalia kesal. Asyik, lihat saja Faye, aku akan mengalahkan HP butut mu itu! Lihat saja! batin Thalia.

Besoknya, Ibu memberikan HP merek Advan warna putih lengkap dengan casing warna emas. “Terima kasih Bu!” Thalia tanpa sarapan dan salam, dia langsung ngacir ke sekolah. “Faye!” teriak Thalia. “Lihat HP baruku! Lebih bagus dari HP mu!” ujar Thalia sombong. Faye marah dan pergi. “Wah, cantik sekali HP mu!” puji anak anak. Sejak saat itu, Thalia jadi malas belajar.

Saat pengambilan raport, “Thalia! Lihat nilaimu. Ibu memberikan kamu HP untuk belajar! Bukan buat main!” kata Ibu tegas. “Maafkan Thalia Bu,” kata Thalia kesal. Ibu merebut HP Thalia. “Ini akan Ibu jual, hasilnya untuk biaya sekolah kamu!” ujar Ibu. “Jangan Bu!” Thalia menangis. Ibu tidak merespon. Ibu memotret HP Thalia dan dijual via online. Sejak saat itu, Thalia berjanji akan belajar sungguh sungguh.

0

Bertemu Mama dan Papa

Bella adalah anak yang kaya raya. Dia tinggal bersama Neneknya. “Oma, kapan Mama dan Papa pulang dari Rusia? Aku kangen banget,” rengek Bella. “Bella, empat bulan lagi, Mama dan Papa pulang, kok. Oma habis di telpon sama Papa,” ujar Oma. Bella terdiam. “Masih lama, Oma! Emang, kenapa sih, gelar S3 begitu penting bagi mereka?” sungut Bella. Oma tersentak. “Sudah, sudah Bella! Nih, Oma belikan coklat buat kamu!” kata Oma. “Terima kasih Oma!”

Di sekolah, Bella terlihat kusut. “Bella? Kamu kenapa?” tanya Dina, temannya. “Sudah tiga tahun Mama dan Papaku belum pulang ke Indonesia. Aku kangeeen banget sama mereka. Mungkin, mereka tak sayang padaku,” jawabnya. “Astaghfirullah, Bella! Istighfar! Mana ada orang tua yang tidak sayang dengan anaknya?” Dina kaget. Bella pun istighfar. “Bel, kamu yang sabar dong! Pasti Mama dan Papamu akan pulang,” kata Dina. Bella mengangguk.

Saat pulang, Oma sedang menonton TV sambil duduk santai sambil minum teh di cangkir kecil mungil. Oma sudah berumur 57 tahun. “Oma, makan hari ini apa?” tanya Bella. “Ada ayam goreng madu, nasi, salad, dan jus melon, juga es krim coklat,” kata Oma. Bella segera makan dengan lahap. Lalu, dia membersihkan kamar Oma. Dengan semangat empat lima, Bella membersihkan kamar Oma. “Huh, bersih juga,” kata Bella. Setelah itu, dia menaiki tangga menuju kamarnya, tidur.

Empat bulan telah berlalu. “Sayang, Mama dan Papamu akan pulang besok, sekitar jam 9 pagi,” kata Oma. “Asyik! Aku bisa bertemu Mama dan Papa!!” teriak Bella kencang. Dia memeluk Oma. “Aku akan membuat kejutan untuk Mama dan Papa!!” tekad Bella. Dia segera membuat sup ayam jamur kesukaan Mama dan ayam goreng krispi pedas kesukaan Papa. “Pasti mereka senang sekali,” gumamnya.

Besoknya, Bella segera membuat sup ayam jamur dan ayam goreng krispi pedas. “Hmm… wangi! Sedap sekali!” kata Bella. Tingtong! Mama dan Papa pulang. “MAMA! PAPA!!” teriak Bella. Mereka berpelukan erat. “Ma, Pa, ini ada sup ayam jamur dan ayam goreng krispi pedas!” kata Bella. “Wah enak sekali buatan kamu, Sayang,” puji Papa setelah mencicipi ayam goreng.

0

The Yummy Restaurant

Hari minggu ini, Liana, Vera, Rina, dan Sarah mau berlibur ke Bogor. “Asyik! Ke Bogor! Mantel, jaket, kaus kaki, bantal, camilan, sarung tangan, lengkap sudah!” celetuk Sarah. “Anak anak, ayo masuk mobil. Meskipun sempit, mobil ini terkesan mewah sekali, lho!” kata Papa Liana. “Waw! Mobil Ferrari! Punya kamu nih, Na?” tanya Sarah. “Hehehe…, iya,” kata Liana. Mereka pun berangkat.

Continue reading

0

Sup dan Muffin Coklat Untuk Lola

Lola sedang sakit demam. Aurel merasa kasihan melihat Lola yang tergeletak lemah di kasur. “Hmmm….. Lola paling suka muffin coklat hangat. Aku beli muffin saja ah! Nanti tinggal di hangatkan,” kata Aurel. Dia segera berlari mengambil uang dan ke toko ‘Muffin de Bakery’.

“Mbak, ada muffin coklat?” tanya Aurel. “Wah, habis Dik. Tinggal muffin lava cake. Mau?” tawar petugas itu. “Ya sudah, saya beli lima buah ya!” kata Aurel. Petugas itu menyerahkan sebuah kotak cantik berisi lima buah muffin lava cake. “Mau dikasih tulisan? Gratis, kok,” ujar petugas itu. “Mau, mau Mbak! Tulisannya ‘BUAT LOLA’,” jawab Aurel. Setelah selesai, Aurel pergi pulang.

Continue reading

0

Cake Lemon dan Pertengkaran

“Liza! Penny! Lola! Ada lemon cake untuk kalian!” teriak Summer, Olive, dan Lily. “Nih, ada kue….” BLAK! DUM DUM DUM! Kue lezat itu jatuh dan kotor akibat senggolan Liza, Penny, dan Lola. “Kalian ternyata nggak menghargai kue lemon cake kami!” bentak Summer. “Maafkan kami, aku nggak sengaja,” sesal Penny sambil menunduk. “Huh, kalian itu maunya apa, sih? Kami sudah membuatkan kue ini susah susah! Kenapa kalian jatuhkan! Kalian jahat! Ayo kita pergi!” kata Olive.

Di sekolah, Summer, Olive dan Lily duduk di taman sambil cerita cerita dengan Kitty. “Hai, kawan! Kami boleh duduk dong!” kata Liza. “Enggak! Pergi!” seru Lily kesal. Mereka menunduk. “Apa kalian?! Aku bilang pergi, ya pergi! Punya telinga nggak sih?” teriak Summer. “Huh, kalian kenapa, sih? Hanya masalah sepele saja, kalian sampai begini, jutek minta ampun!” ujar Lola sebal. “Apa? Sepele? Kue seenak dan sesusah itu bikinnya, kalian anggap sepele?!” seru Olive sangat marah. “Ayolah, kawan! Kita pergi!” kata Liza ketus.

Continue reading

0

Mrs. Cupcake

Lilian suka sekali cupcake. Dia hampir setiap hari beli cupcake di Miss Veron, penjual cupcake berbagai rasa di sekolah. Lilian paling suka rasa dark chocolate. Soalnya, rasa coklatnya lembut dan ada lelehan coklat di dalamnya. Hmmmm… Yummy!

Di kelas, Lilian lagi membaca buku cerita berjudul Avalonia Castle. Lalu, ada Patricia, musuh Lilian. “Halo, Lilian si Pengecut yang suka banget makan cupcake! Bisa bisa, nanti dia obesitas, terus jadi bahan tertawaan!  Seru sekali ya!” seru Patricia centil. “Memang, kamu tau apa tentang obesitas, hah?!” kata Lilian mulai marah. Patricia terdiam. “Aku cuma tau aja! Hiiiihh! Awas kamu!” kata Patricia sambil berlari ke bangkunya. “DASAR PAYAH! PATRICIA PAYAH!! Gitu doang nangis! Cengeng!” teriak Lilian membalas.

Continue reading