0

Tiara Ratu Diamond (Asrama Berhantu 6)

Clarissa berjalan ke ruang makan, dan segera makan siang. “Kamu tau tidak, tiara Ratu Diamond yang hilang?” tanya Cindy pelan. “Tau,” jawab Clarissa. “Good,” jawab Cindy pendek.

Cindy mengajak Clarissa dan Rena ke kamar. Rena membaca pikiran Cindy. “So, kita mau mencari tiara yang hilang itu?” tanya Rena. “Ya iyalah!! Aku kasihan tau, arwah Ratu Diamond masih belum tenang,” bisik Cindy. “Stop, dimana terakhir kali Ratu Diamond meninggalkan tiaranya?” tanya Clarissa. “Kata legenda sih, di kamar 379,” jawab Rena. “Wah, kalian lagi cerita apa?” Julia tiba tiba datang. Rena menceritakan semuanya. “Kita harus mencarinya!”

Di kamar 379, kosong. Mereka mengubrak abrik kamar anak bernama Kelly McFlame. “Hei aku menemukan sesuatu!” teriak Julia lantang. Terdapat kertas. “Isinya, supaya kita mencari tiara Ratu Diamond, di lorong bawah tanah,” kata Clarissa. “Oke. Tapi, dimana lorong bawah tanah itu?” kata Rena. “Di sudut Asrama!” sahut Cindy cepat.

“Kamu yakin, ini tempatnya?” tanya Rena. “Iya, ini di sudut Asrama bukan?” bisik Cindy. Lalu, datanglah seorang hantu. “Hey, mau apa kalian disini?!” seru hantu itu. “Kami… mau mencari sesuatu,” jawab Julia enteng. Hantu itu mengernyit. “Tak semudah itu, Manusia Bodoh!” teriak hantu. “What? Stupid? Kamu yang bodoh! Rasakan ini!” Julia murka. Matanya bersinar merah darah. Tandanya dia sedang mengeluarkan ilusinya. “Haha! Tak akan mempan jika tidak ada siswa yang mempunyai perisai disini!” ejek hantu. “Aku punya!” seru Clarissa. “A… Apa?! Ampun! Si.. Silakan lewat,” kata hantu itu. Mereka bertos ria.

Sinar terang datang. Mereka melihat Ratu Diamond sedang sedih. “Ratu?!” pekik mereka. Ratu menoleh. “Kalian mau membantu aku?” tanya Ratu. “Ya!” jawab mereka. Tolong bawa arwahku kembali. Hantu itu menculik arwahku. Aku masih hidup,” tuturnya. “Baiklah, Ratu, aku berhasil mendapatkan tiara ini,” Rena menyodorkan tiara Ratu yang hilang. “Terima kasih. Ayo kita pergi!”

Ratu Diamond kembali hidup. Asrama Pinky berterima kasih pada empat sahabat itu. Masih ada cerita lainnya lho! Ayo, baca!

0

Makam Kakek Leonard (Asrama Berhantu 4)

Musim salju kali ini bersuhu -3 derajat celcius. Wah, dingin sekali! Sweter dibagikan masing masing 3 sweter tebal. Perapian di setiap kamar dinyalakan. “Brr…. dingin sekali! Aku buatin coklat hangat ya! Aku juga punya kue coklat hangat,” kata Julia. “Wah, terima kasih Julia!” kata Cindy. 25 menit kemudian, “Sudah siaaaap!” teriak Julia. Mereka pun makan sambil lihat TV.

Continue reading

0

Murid Baru dan Mr. Helmi (Asrama Berhantu 3)

“Nama saya Deandra Juliana Violetty. Panggil saja saya Julia. Salam kenal,” kata anak itu. “Oke, Julia, kamu duduk disebelah Clarissa ya!” Julia pun duduk. Julia mempunyai kekuatan ilusi kesakitan. Kalau dia menyerang seseorang dengan kekuatannya, anak itu akan kesakitan sekali. Rena mengetahui kalau murid itu jahat. Setelah pengenalan selesai, Julia dipersilahkan ke kamar Clarissa karena semua kamar sudah penuh.

Continue reading

0

Misteri Tragedi 1978 (Asrama Berhantu 2)

Clarissa membaca buku di perpustakaan bersama dua sahabatnya. Tiba tiba, angin berhembus kencang. Koran koran pun berterbangan. “Haduh, Clarissa, tolong bersihkan koran koran ini, ya,” kata Mrs. Julia, penjaga perpus. “Oke, Miss,” Clarissa membersihkan koran koran itu dan menemukan koran yang ditulis pada tahun 1978. “Pembantaian besar besaran? Faime?” gumam Clarissa. Dia membawa koran itu ke kelas.

Continue reading

0

Gara Gara HP

“Ayo lah bu. Kali ini yang terakhir deeeh,” rengek Thalia. Dia merengek meminta HP baru. Kali ini yang layar sentuh. “Tidak! Kamu baru saja ganti HP! Sudah, tidur sana!” perintah ibu. Thalia cemberut.

Di sekolah, anak anak membicarakan tentang HP barunya. “Aku beli merek Cross warna hitam,” kata Kiara. “Aku Mito yang warna merah, aku juga beli casing nya, lho, bla bla bla….” semua itu membuat Thalia bertambah iri saja. “Thalia, mana HP mu?” tanya Faye. “Emm… ketinggalan,” jawab Thalia pasrah. “Besok, bawa HP mu ke sekolah, aku ingin lihat, HP mu bagus apa tidak,” ujar Faye sombong.

“Bu, Thalia pulang!” teriak Thalia kesal. Dia membanting tasnya ke sofa empuk kesayangannya. “Non, ayo makan. Ada ayam panggang tuh, o iya, Tuan dan Nyonya lagi pergi ke luar kota. Ini, Bibi di tinggalin uang lima juta sama Nyonya,” Bi Sumi menyerahkan amplop putih. “Makasih, Bi,” kata Thalia. “Non, ada pesan satu lagi. Uang itu nggak boleh dibuat beli HP,” jelas Bi Sumi. “Huh, Ibu sama Ayah nyebelin deh,” sungut Thalia,

Kriiing! Kriiiing!

HP Thalia berbunyi. “Halo, Bu. Ada apa?” , “Thalia, Ibu mau pulang nih. Ibu bawakan kamu HP baru,” , “Serius Bu? Ibu nggak bercanda. Asyiiiiik!” Thalia menutup telponnya. Melonjak gembira. Sampai sampai, kepalanya terbentur tembok. “Duh!” kata Thalia kesal. Asyik, lihat saja Faye, aku akan mengalahkan HP butut mu itu! Lihat saja! batin Thalia.

Besoknya, Ibu memberikan HP merek Advan warna putih lengkap dengan casing warna emas. “Terima kasih Bu!” Thalia tanpa sarapan dan salam, dia langsung ngacir ke sekolah. “Faye!” teriak Thalia. “Lihat HP baruku! Lebih bagus dari HP mu!” ujar Thalia sombong. Faye marah dan pergi. “Wah, cantik sekali HP mu!” puji anak anak. Sejak saat itu, Thalia jadi malas belajar.

Saat pengambilan raport, “Thalia! Lihat nilaimu. Ibu memberikan kamu HP untuk belajar! Bukan buat main!” kata Ibu tegas. “Maafkan Thalia Bu,” kata Thalia kesal. Ibu merebut HP Thalia. “Ini akan Ibu jual, hasilnya untuk biaya sekolah kamu!” ujar Ibu. “Jangan Bu!” Thalia menangis. Ibu tidak merespon. Ibu memotret HP Thalia dan dijual via online. Sejak saat itu, Thalia berjanji akan belajar sungguh sungguh.